Anggapan yang Salah Tentang Profit

Dunia bisnis semakin berkembang dengan kemajuan teknologi saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMKM di Indonesia mencapai 56,5 juta. Namun Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Saat ini masih banyak dikalangan UMKM atau Entrepreneur yang masih salah mengartikan tentang profit. Kesalahan ini tentunya akan berdampak kepada bisnisnya secara tidak langsung. Jika tidak diluruskan akan berdampak kepada bisnis yang sedang dijalankan dan juga kepada jumlah UMKM saat ini.

Berikut Anggapan yang Salah Tentang Profit oleh sebagian pebisnis di Indonesia

Profit Tidak Sama Dengan Omzet

Saat seseorang memiliki sebuah bisnis maka disana aka nada proses penjualan jasa atau produk setiap bulannya. Jumlah penjualan yang didapatkan adalah omzet dari sebuah bisnis. Sedangkan Profit adalah keuntungan yang didapatkan dari selisih omzet dengan modal.

 

 

Namun saat ini masih ada beberapa pemilik usaha yang menganggap bahwa omzet itu adalah profit (keuntungan). Sehingga ketika mendapatkan omzet besar, mereka langsung menggunakannya untuk keperluan pribadi. Padahal omzet ini masih harus dikurangi dengan modal, dan beban-beban lainnya. Jika ini terus dibiarkan, maka bisnis yang dijalankan tidak akan bertahan bahkan bisa berpotensi ditutup.

Profit Masih Harus Dikurangi Beban

Ada juga yang sudah sadar bahwa omzet dengan profit itu berbeda. Namun mereka lupa bahwa profit tadi masih harus dikurangi dengan beban operasional seperti listrik, gaji karyawan, dan beban lainnya.

 

 

Gross profit merupakan profit yang belum dikurangi beban-beban. Gross profit jangan sampai dibelanjakan untuk hal-hal konsumtif. Sebab nantinya akan semakin menambah beban bagi si pemilik bisnis.

Profit Tidak Berbanding Lurus Dengan Omzet

Omzet besar memang terlihat sangat fantastis. Namun faktanya, omzet besar tidak menjamin profit yang didapatkan juga besar dan omzet kecil belum tentu profit yang didapatkan juga kecil.

 


Sebagai contoh si A mempunyai perusahaan properti pada bulan ini laku 2 unit rumah, omzet yang didapatkan 1 milyar dengan profit yang didapatkan 5%. Sedangkan si B mempunyai perusahaan konveksi seragam pada bulan ini mendapatkan pesanan seragam sekolah, omzet yang didapatkan 100 juta dengan profit yang didapatkan 30%.

Secara kasat mata kita akan menilai si A lah yang hebat karena mendapatkan omzet yang besar. Namun kita tidak melihat beban-beban yang dikeluarkan oleh si A pastinya tidaklah sedikit.

 

Profit Tidak Harus Uang

Uang memang menjadi patokan kesuksesan bisnis oleh kebanyakan orang. Padahal masih banyak indikator lainnya dalam bisnis tidak hanya uang, seperti aset tetap, aset tidak terlihat (brand), dan masih banyak lagi.

 

 

Saat bulan ini jumlah cash profit yang didapatkan menurun dibandingkan dengan bulan kemarin. Namun terjadi peningkatan pada aset yang dimiliki, maka itu juga merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

 

Profit Bukan Free Cash Money

Profit yang saat ini didapatkan bukanlah free cash money yang dapat dibelanjakan sesuka hati. Sebagai pebisnis seharusnya ketika mendapatkan profit sudah memikirkan alokasi profit yang didapatkan untuk kemajuan bisnisnya.

 

Profit yang didapatkan bisa dialokasikan untuk menambah modal usaha, pembelian aset untuk mempermudah operasional bisnis, menambah karyawan dan sebagainya.

Itulah ulasan tentang Anggapan yang Salah Tentang Profit. Semoga setelah membaca artikel ini anggapan tentang profit semakin baik. Sehingga dengan begitu bisnis yang dimiliki bisa terus naik kelas. See you on top!

Leave a Reply