5 Tips Pengelolaan Keuangan Pribadi Secara Syariah

Setiap orang pasti ingin hidup nyaman dan berkecukupan sepanjang hidupnya. Untuk bisa mewujudkannya, pengelolaan keuangan hukumnya wajib. Saat ini, kesadaran masyarakat pada nilai-nilai religi semakin tinggi. Akibatnya pengelolaan keuangan pribadi secara Syariah mulai banyak dilirik. Kalau kamu adalah salah satu dari mereka yang tertarik untuk melakukan pengelolaan keuangan secara Syariah, kamu bisa lirik 5 tips di bawah ini.

1. Tujuan

Via pixabay.com

Semua hal pasti memerlukan tujuan yang jelas. Enggak terkecuali dengan pengelolaan keuangan. Dalam pengelolaan keuangan Syariah, kamu harus memprioritaskan tujuan keuangan yang ada dalam tuntunan Islam yang tertera dalam Al-Quran dan Hadits.

Salah satu contohnya adalah persiapan biaya persalinan anak. Pengelolaan keuangan biasa hanya akan mempersiapkan kebutuhan secara medis dan kesehatan saja. Namun dalam keuangan Syariah kita diharuskan untuk mempersiapkan biaya Aqiqah, yaitu dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.

Kebutuhan-kebutuhan lain yang diharuskan contohnya adalah berkurban setiap Idul Adha, biaya Ibadah Umroh dan Ibadah Haji yang lebih diprioritaskan daripada biaya jalan-jalan lainnya, biaya kebutuhan anak seperti sunatan untuk anak laki-laki dan biaya pernikahan terutama untuk anak perempuan.

2. Halal

Dalam keuangan Syariah, semua pendapatan atau rizki baik pendapatan rutin bulanan, tahunan atau dari hasil investasi harus diperoleh secara Halal. Artinya, semua pendapatanmu harus diperoleh dengan jelas tanpa mengandung prinsip ketidakjelasan (gharar), unsur riba, tidak diperoleh dari hasil spekulasi (maysir), dan bukan dari hasil tindak kejahatan.

3. Amal

Via wikimedia.org

Membayar zakat termasuk salah satu rukun islam. Oleh sebab itu zakat harus dimasukkan dalam anggaran pengeluaran dan kas.  Idealnya pengeluaran untuk zakat sudah disiapkan dalam daftar pengeluaran rutin.

Selain itu, infaq dan sedekah dianjurkan untuk dimasukkan dalam anggaran karena merupakan salah satu cara untuk mensucikan harta. Di dalam islam 2,5 % dari rezeki yang kita diterima merupakan hak orang lain yang membutuhkan. Jadi sisihkanlah minimal 2,5 % dari semua total pendapatanmu untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Kamu bisa memberikan langsung atau menyalurkannya lewat badan-badan yang terpercaya.

 

4. Hutang

Via pixabay.com

Dalam ajaran Islam, utang sebisa mungkin dihindari. Kita hanya boleh berhutang jika benar-benar membutuhkan atau terpaksa. Oleh sebab itu, jika kamu memiliki hutang, prioritaskan untuk membayar hutang dalam membuat anggaran. Catat semua hutang sehingga enggak ada yang terlewat dan bisa dilunasi.

Urusan hutang adalah urusan yang harus diselesaikan di dunia. Itu sebabnya saat pemakaman kita sering mendengar anggota keluarga dari almarhum akan bertanya apakah almarhum memiliki hutang yang enggak diketahui sehingga mereka bisa membayarnya. Urusan hutang benar-benar bukan urusan sepele.

5. Waris

Via flickr.com

Keuangan Syariah enggak saja panduan dalam mengatur keuangan untuk hal-hal duniawi. Oleh sebab itu, tentu saja ada panduan untuk persiapan bahkan setelah kita meninggal. Dalam keuangan Syariah wajib hukumnya untuk berwasiat.

Salah satu tuntunan hukum waris yang paling jelas tercantum di Al-Quran adalah pada Surat An-Nisa ayat 11-12. Berdasarkan ayat tersebut wajib hukumnya untuk melakukan pembagian waris. Di Indonesia, hal ini tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia, Nomor 1 Tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991 merujuk pada Pasal 171-214 Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Di ayat yang lain, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 180 terdapat anjuran untuk berwasiat. Dalam Surat ini merencanakan waris akan menghindari konflik akibat perebutan harta warisan di antara para ahli waris.


 

Leave a Reply