Mandiri Group Terbitkan Kontrak Investasi untuk Infrastruktur di Pertemuan Tahunan WB – IMF 2018

Dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-WB tahun 2018 ini turut dilangsungkan Forum Investasi Indonesia yang berlangsung pada tanggal 9 dan 11 Oktober 2018. Di forum ini sejumlah Badan Umum Milik Negara (BUMN) dan sejumlah investor bertemu untuk membuat kerjasama. Salah satunya adalah Bank Mandiri selaku perusahaan BUMN yang akan bekerjasama dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk dengan menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur (KIK-DINFRA).

 

Dengan mengusung tema “A New Paradigm in Infrastructure Financing”, forum ini membahas paradigma baru pembiayaan infrastruktur untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Para keynote speakers yang hadir antara lain Wimboh Santoso (Ketua OJK), Rini M. Soemarno (Menteri Badan Usaha Milik Negara), Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan), Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia), dan Darmin Nasution (Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia).

Ada juga Seminar FK PPPK dengan panelis Kartika Wirjoatmodjo (CEO of PT Bank Mandiri (Persero) Tbk), Jeffrey Delmon (Infrastructure Specialist of World Bank), Eric Wu (Head of Infrastructure Debt of Blackrock), Terry Fenous (Managing Director of Moody’s), dan Ranier Haryanto (Program Director of KPPIP). Dalam forum ini, juga terdapat diskusi panel yang membahas tentang Energi (tenaga listrik) dan Jalan Tol dengan Moderator Silvano Rumantir ( CEO of Mandiri Sekuritas) dan Jenpino Ngabdi (CEO of Danareksa Sekuritas).

 

Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5%, Indonesia membutuhkan investasi sebesar USD 1,23 triliun atau setara Rp 200 Triliun di sektor infrastruktur. Alokasi belanja negara untuk infrastruktur juga terus meningkat secara signifikan dari Rp86 triliun di tahun 2010 menjadi lebih dari Rp400 triliun rupiah pada APBN 2018.

Untuk mendanai investasi infrastruktur tersebut, tentunya tidak bisa hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, dengan adanya perhelatan akbar IMF – WB 2018 selama 7 hari di Bali yang dihadiri oleh 20 Kepala Negara, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara, 15.000 partisipan, 4.000 delegasi dan 3.500 investor bukan saja memberikan keuntungan investasi secara langsung, tapi juga menjaring para investor baru untuk berinvestasi di Indonesia.

 

Saat ini ada 79 proyek infrastruktur yang dikelola oleh 21 BUMN dan memiliki nilai investasi mencapai US$ 42 miliar atau sekitar Rp 630 triliun. Sebanyak 21 proyek nilai US$ 13,8 miliar atau Rp 207 triliun akan disepakati oleh sejumlah BUMN dan investor pada hari Kamis (11/10).

Bank Mandiri Group sebagai salah satu perusahaan berpelat merah terus mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia melalui pembiayaan inovatif di pasar modal. Kali ini, Bank Mandiri bersama perusahaan anak Mandiri Sekuritas dan Mandiri Manajemen Investasi bekerjasama dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur (KIK-DINFRA).

 

Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Kartika, alternatif pembiayaan infrastruktur melalui pasar modal ini dapat dimanfaatkan perusahaan di bidang infrastruktur untuk mendapatkan sumber pendanaan yang efektif dengan biaya yang terukur.

Sebelumnya, Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas telah membantu Jasa Marga menerbitkan obligasi Rupiah di pasar modal internasional, Komodo bonds senilai Rp4 triliun pada akhir tahun lalu, serta Reksadana Penyertaan Terbatas (RDPT) untuk membiayai pengembangan jalan tol PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

 

“Inisiatif ini juga akan membantu pendalaman pasar keuangan domestik melalui penambahan produk investasi berbasis proyek infrastruktur,” kata Kartika di sela-sela IMF-World Bank Group Annual Meeting 2018 di Bali, Rabu (10/10).

KIK-DINFRA akan memperoleh pernyataan efektif dari OJK paling lambat pada Kamis, 11 Oktober 2018 dan akan segera diperdagangkan di pasar modal dengan target pengumpulan dana mencapai Rp1,5 triliun. Adapun, pengumpulan dana melalui RDPT yang mencapai Rp3 triliun akan memberikan tambahan belanja modal kepada PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

 

Kartika menambahkan, langkah ini merupakan implementasi komitmen Bank Mandiri Group untuk mendukung perusahaan-perusahaan di bidang infrastruktur untuk memenuhi aspirasi Pemerintah untuk mengakselerasi pemenuhan infrastruktur di Indonesia.

Sedangkan dukungan perbankan ke proyek infrastruktur juga meningkat tajam dengan kualitas yang terjaga baik. Jika pada 2010 pembiayaan perbankan baru Rp121 triliun, maka nilai tersebut tumbuh hampir 18% per tahun hingga Rp378 triliun pada akhir tahun lalu.

 

Bank Mandiri sendiri sebagai perbankan nasional telah menyalurkan pembiayaan langsung yang signifikan ke sektor infrastruktur hingga mencapai  hampir 24% dari total portofolio kredit perseroan. Pada akhir Semester I-2018, nilainya mencapai Rp165,8 triliun dari total komitmen Rp255,3 triliun yang sudah diberikan ke proyek-proyek infrastruktur. Penyaluran itu naik 23% secara tahunan (y.o.y).

Adapun sub sektor yang memperoleh pembiayaan infrastruktur Mandiri antara lain kelistrikan Rp36,8 triliun, transportasi Rp39,3 triliun, Migas dan energy terbarukan Rp24,1 triliun, konstruksi Rp18,3 triliun serta telekomunikasi Rp17,5 triliun.

 

 

Dengan pertemuan akbar untuk ekonomi global ini, pertumbuhan ekonomi dunia khususnya Indonesia diharapkan semakin meningkat. Sahabat Jadi Mandiri sendiri sudah siap berinvestasi sambil berkontribusi pada pembangunan infrastruktur Indonesia dengan produk ini?


 

Leave a Reply