5 Penemuan Ramah Lingkungan Buatan Inovator Indonesia

Seiring semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan, semakin banyak orang yang tertarik menciptakan penemuan ramah lingkungan. Inovator-inovator dari Indonesia juga enggak mau ketinggalan. Mereka menciptakan penemuan-penemuan yang layak diapresiasi. Berikut penemuan ramah lingkungan buatan inovator Indonesia.

 

1. Alat Konversi Energi Listrik

via metrobali.com

Dua mahasiswi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Nabila Astari dan Stephanie Rawi, berhasil memenangkan kompetisi bergengsi Go Green City Schneider Electric 2016 yang diadakan di Paris, Perancis. Mereka menciptakan teknologi konversi listrik yang mereka beri nama Droplock Turnstile Gate.

Alat ini bentuknya berupa kotak berukuran sedang. Di dalamnya terdapat sistem mekanis yang mampu mengoptimalkan produksi listrik. Sistem mekanis ini dapat mengubah pintu putar yang ada di banyak fasilitas umum sebagai generator listrik. Daya yang dihasilkan bisa mencapai 15 kWh setiap harinya. Energi ini dapat digunakan untuk keperluan ringan seperti mengisi baterai gadget, televisi, lampu, dan lain sebagainya.

 

2. Alat Pemertahanan Populasi Hiu

via wwf.or.id

Tiga orang mahasiswa Universitas Brawijaya, yakni Galih Dandung Akbar, Romi Dwi Nanda dan Muhamad Ali Dofir membuat teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Lewat alat ini, nelayan dapat menangkap ikan tanpa mengganggu populasi hiu.

Masalah hiu jadi penting karena populasi hewan ini semakin berkurang dan terancam punah. Banyak nelayan menangkap hiu untuk diambil siripnya. Ironisnya, hiu yang ditangkap oleh nelayan kebanyakan adalah tangkapan sampingan. Nelayan enggak sengaja menangkap ikan hiu tersebut ketika sedang menargetkan ikan lain.

Alat ini bekerja dengan memancarkan sinyal sehingga hiu tidak mendekat ketika nelayan sedang mencari ikan. Suatu perangkat elektronik ditambahkan pada alat penangkap ikan untuk memancarkan sinyal tersebut.

Atas karya yang inovatif ini, pada tahun 2015, tim dari Universitas Brawijaya tersebut meraih juara pertama Kompetisi Alat Perikanan Ramah Lingkungan yang diadakan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

3. Kantong Plastik dari Singkong

via djpen.kemendag.go.id

Apakah akhir-akhir ini kamu sering menemukan kantong plastik yang mencantumkan keterangan dapat terurai setelah dua tahun? Kantong plastik tersebut terbuat dari oxium, zat aditif yang ditambahkan ke bijih plastik agar lebih cepat terurai. Zat tersebut merupakan penemuan ciptaan Sugianto Tandio.

Lebih kerennya lagi, Sugianto Tandio, juga menciptakan ecoplas, plastik yang terbuat dari tepung singkong. Plastik yang ia jual dengan merek dagang Enviplast tersebut saking ramah lingkungannya, dapat dilarutkan dalam air dan diminum tanpa efek samping.

Ecoplas jauh lebih cepat terurai dibandingkan plastik yang terbuat dari oxium sebab plastik ini dapat dimakan oleh mikroba. Karena ramah lingkungan, ecoplas bahkan bisa digunakan sebagai lapisan dalam landfill soil cover di tempat pembuangan akhir.

 

4. Kulkas Tanpa Listrik

via infobacan.com

Muhtaza Aziziya Syafiq dan Anjani Rahma Putri adalah siswi dari SMA Negeri 1 Sekayu, Sumatera Selatan. Mereka menciptakan karya ilmiah berjudul Green Refrigerant Box atau kulkas tanpa freon listrik.

Idenya mereka dapat sewaktu jalan-jalan ke pelosok daerah. Di sana mereka melihat sayur dan buah melimpah, namun buah dan sayur tersebut cepat busuk karena tidak disimpan dalam kulkas.

Kulkas tersebut mereka buat memanfaatkan sisa kayu gelam yang banyak ditemukan di daerahnya, Musi Banyuasin. Sisa kayu gelam tersebut mereka jadikan arang aktif dalam penelitian. Atas karya tersebut, mereka berhasil penghargaan di Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) tahun 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka juga meraih Development Focus Award senilai USD 10.000 dari USAID.

 

5. Komposit Pengganti Serat Gelas

via klikmania.net

Raafi Jaya Sutrisna, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro, dan Suprihatin, Siswi SMA PGRI Kayen, Pati, Jawa Tengah, adalah dua peneliti muda dari Pati, Jawa Tengah. Mereka bekerja sama mengembangkan bahan komposit dari serat limbah pelepah pohon pisang dan kulit singkong untuk menjadi bahan material interior pesawat.

Penemuan tersebut menunjukkan potensi untuk jadi pengganti serat gelas (fiber glass). Selain mengurangi limbah, penemuan ini juga akan menghadirkan solusi materi tahan banting yang lebih ramah lingkungan.

 

Walau belum bisa menciptakan penemuan ramah lingkungan seperti mereka, kamu tetap bisa menjaga lingkungan dengan kebiasaan sederhana sehari-hari. Intinya, peran semua orang diharapkan untuk menjaga alam kita tetap lestari.


 

Leave a Reply