Mengenal 5 Seniman Jogja Generasi Baru

Peninggalan kebudayaan yang bentuknya konkret seperti candi saja kalau tidak dilestarikan bisa musnah tergulung waktu, apalagi yang sifatnya lebih “abstrak” seperti tarian atau musik. Beruntung, dunia seni Jogja masih punya sosok-sosok berikut. Para seniman Jogja generasi baru ini mengembangkan kesenian tradisional sesuai dengan konteks kekinian. Siapa saja mereka?

 

Nuri Ningsih Hidayati, Pembatik

generasi baru seniman jogja
via print.kompas.com

Nuri Ningsih Hidayati lahir di Desa Karongan, Sleman, Jogjakarta. Perempuan berusia 24 tahun ini sejak tahun 2015 sudah aktif memperkenalkan batik unik yang menggunakan zat warna dari alam.

Bahan-bahan asal warna tersebut misalnya dari daun rambutan, daun mangga, daun marenggo, daun ciplukan, dan lain sebagainya. Sementara untuk motif, lulusan Fakultas Seni Rupa Insitut Seni Rupa (ISI) Jogjakarta ini memadukan motif kontemporer seperti motif sakura dengan motif tradisional Jogja.

Atas karyanya tersebut, pemilik Batik Marenggo Naturaldyes ini selain sering memenangkan lomba desain batik tingkat daerah juga pernah meraih penghargaan Pembatik Muda Berkarya 2014.

 

Eni Lestari, Sinden

generasi baru seniman jogja
via ouvirtopmusicas.com

Perempuan muda lulusan Seni Karawitan ISI Jogjakarta ini disebut-sebut sebagai sinden generasi baru. Kemampuan menyinden Eni mengantarnya pentas ke berbagai negara. Selain pernah ke Jepang dan Portugal, Eni juga pernah diundang pentas di Belgia. Di sana ia berkolaborasi dengan seniman Asia Tenggara lainnya seperti dari Filipina, Laos, dan Kamboja.

Eni sudah menekuni dunia tarik suara sejak SMP. Ia menjadi penyanyi campursari untuk Grup Laras Sliring. Ia bahkan bisa pentas setidaknya 7 kali seminggu di kawasan Gunung Kidul, kampung halamannya.

Selain nyinden dan menyanyikan lagu-lagu campursari, Eni sudah dua kali rekaman tembang Jawa dengan iringan musik jazz bersama kelompok musik Everyday Jazz asal Jogja.

 

Mila Rosinta Totoatmojo, Koreografer dan Penari Jawa

via milarosinta.blogspot.com

Darah seni sudah mengalir dalam diri Mila. Orangtuanya, pasangan Sudarwoto dan Endang Suksesi, bergiat di bidang videografi dan perfilman. Sejak kecil pun ia telah dikenalkan pada dunia seni dengan belajar melukis, musik, dan menari, khususnya tari Bali dan balet. Rupanya dibanding seni lainnya, bakat Mila di seni tari lah yang menonjol.

Ketika menginjak bangku kuliah, perempuan kelahiran 15 Mei 1989 ini mantap masuk Institut Seni Indonesia Jogjakarta. Segala macam tari tradisi Nusantara ia pelajari. Ia ingin ingin membuktikan bahwa karya seni bukan hanya menjadi tontonan, namun juga mengajarkan nilai-nilai tentang kehidupan manusia.

Hingga kini, puluhan tarian, baik karya sendiri maupun kolaborasi ia pentaskan ke berbagai daerah dan negara. Sebut saja Jepang, Belanda, India, Mesir, Singapura, dan Thailand. Dengan tekad menghidupi tari sekaligus hidup dari tari, Mila juga mendirikan sekolah tarinya sendiri bernama Mila Art Dance.

 

Rofit Ibrahim, Dalang dan Pemain Gamelan

via republika.com

Rofit merupakan pemuda asal Jogja berprofesi sebagai pemain gamelan dan dayang wayang kulit. Uniknya sejak tahun 2004, ia mementaskannya di Jepang bersama dengan istrinya Harumi Sasaki dan kelompok gamelan yang ia kelola, Hanna Joss.  Setiap kali pentas, ia satu-satunya orang Indonesia karena baik istri maupun anggota kelompok Hanna Joss semuanya berkebangsaan Jepang.

Menurut bapak dua orang anak ini, orang Jepang banyak yang menyukai gamelan dan wayang kulit. Lakon yang digemari terutama Mahabharata. Sementara untuk menyasar penonton muda, biasanya Hanna Joss mementaskan dongeng Jepang seperti Momotaro yang diiringi gamelan.

Selain pentas keliling Jepang, Rofit dan istrinya juga mendirikan Sekolah Bintang Laras. Coba tebak bidang yang diajarkan? Ya benar, sekolah ini mengajarkan kesenian gamelan.

 

Alfian Anggoro Mukti, Dalang

generasi baru seniman jogja
via jogjatoday.com

Pemuda kelahiran Gunung Kidul 25 Juli 1995 ini kerap disebut sebagai “Dalang Kekinian.” Dalam setiap pentas yang ia sajikan, Alfian menambahkan gimik-gimik menarik seperti efek pencahayaan dramatis dan efek-efek suara menyentak.

Alfian mulai serius menekuni dunia perdalangan sejak duduk di bangku kelas 2 SMA. Ketika itu ia menjadi dalang untuk pagelaran wayang semalam suntuk. Passion-nya ini kemudian ia lanjutkan lewat menempuh pendidikan Jurusan Bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta.

Ia berharap bahwa pertunjukan wayang tak hanya digemari kalangan orang tua tapi juga anak-anak muda.

 

Melihat seniman-seniman Jogja generasi baru ini, kita bisa tetap optimis kebudayaan Indonesia akan tetap jaya dan lestari. Sepakat?


 

Leave a Reply