5 Perusahaan Besar yang Tidak Memiliki Produknya Sendiri

Lazimnya, suatu perusahaan bisa berkembang dan besar melalui dua tahap, yakni tahap produksi dan memasarkan. Tahap produksi adalah proses menciptakan barang atau jasa sedangkan tahap memasarkan adalah meliputi penyebaran dan penjualan barang atau jasa ke sebanyak mungkin orang.

Seiring kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, perusahaan tidak harus melalui dua tahapan tersebut. Saat ini sudah ada perusahaan besar yang tidak memiliki produk mereka sendiri. Bermodalkan tampilan antarmuka web atau aplikasi smartphone, perusahaan ini bisa menjadi besar berkat perannya sebagai perantara penyedia barang atau jasa dengan konsumen. Tidak percaya? Di bawah ini beberapa contohnya.

 

1. Facebook, perusahaan media yang tidak memproduksi konten media.

Tampilan antarmuka Facebook

Sering atau setidaknya pernah scrolling newsfeed kala bosan? Pernah menyadari kalau semua yang tampil di sana bukan buatan Facebook sendiri? Semua konten di sana adalah unggahan para pengguna Facebook.

Facebook yang dibuat oleh Mark Zuckerberg dan teman-temannya di Harvard pada tahun 2004 menjadi salah satu perusahaan media sosial paling populer di dunia. Jumlah penggunanya mencapai 1,79 milyar orang. Malahan di Indonesia dengan jumlah pengguna Facebook 88 juta, orang sering menyamakan berinternet dengan mengakses Facebook.

Menurut Fortune, nilai Facebook saat ini mencapai 328 milyar dolar. Jauh melampaui perusahaan minyak seperti Exxon yang hanya 315 milyar dolar AS.

 

2. Airbnb, perusahaan penyedia akomodasi yang tidak memiliki hotel atau penginapan

Logo Airbnb via airbnb.com

Ide membuat perusahaan ini datang dari duo Brian Chesky dan Joe Gebbia pada tahun 2008. Konsep airbedandbreakfast, nama lama Airbnb, adalah menjadi penghubung antara orang yang membutuhkan akomodasi dengan pihak yang memiliki penginapan atau kamar kosong. Nah, Airbnb mendapat komisi tiap kali ada deal antara penyewa dengan orang yang menyewakan tersebut.

Hingga saat ini situs web Airbnb memuat daftar sekitar 2,3 milyar kamar di 57.000 kota di 191 negara. Dengan jumlah pengguna 100 juta orang, nilai perusahaan ini mencapai 30 milyar dolar AS.

 

3. Alibaba, perusahaan perdagangan yang tidak memiliki barang dagangannya sendiri

Logo Alibaba via thenextweb.com

Jack Ma, seorang guru bahasa Inggris asal Tiongkok membuat situs web Alibaba.com pada tahun 1999. Situs tersebut ia buat untuk menjadi portal penghubung antara produsen atau eksportir barang di Tiongkok dengan importir dari luar Tiongkok. Ide tersebut terbukti sukses.

Saat ini Alibaba berkembang menjadi grup perusahaan yang besar mencakup situs web dengan spesifikasi sendiri-sendiri. Ada 1688.com untuk perdagangan partai besar antar pedagang di Tiongkok, AliExpress untuk perdagangan partai kecil di Tiongkok dengan importir dari luar Tiongkok, serta beberapa situs lainnya. Semakin berkembangnya perusahaan ini makin terbukti ketika tahun 2016 kemarin, Alibaba mengakuisisi portal e-commerce Lazada.

Menurut Forbes, nilai Alibaba mencapai 200,7 milyar dolar AS.

 

4. Uber, perusahaan penyedia jasa transportasi mobil yang tidak memiliki armada mobil

Pengemudi Uber via uber.com

Taksi gelap naik pamor setelah kemunculan Uber. Perusahaan penyediaan jasa transportasi mobil ini pertama kali dibuat tahun 2009. Pembuatnya adalah Garrett Camp dan Travis Kalanick. Garrett Camp sendiri bukan orang baru di industri teknologi informasi. Sebelumnya ia pernah membuat situs social bookmarking, StumbleUpon.

Uber menghubungkan orang yang membutuhkan tumpangan dengan orang yang bersedia memberi tumpangan. Tumpangan tersebut berbayar tentunya, tidak berbeda dengan taksi pada umumnya. Karena itulah kemudian kehadiran Uber mendapat kontroversi di berbagai negara. Kehadiran aplikasi yang dibuat perusahaan ini dianggap mengurangi penghasilan para supir taksi resmi.

Meski begitu, Uber terus melaju. Saat ini “armada” Uber sudah ada di 563 kota di lebih dari 81 negara, termasuk Indonesia. Nilai perusahaan yang tidak memiliki produknya sendiri ini mencapai 68 milyar dolar AS.

 

5. Go-Jek, perusahaan penyedia jasa transportasi motor yang tidak memiliki armada motor

via id.techinasia.com

Indonesia juga punya perusahaan besar yang tidak memiliki produk sendiri seperti Go-Jek. Pada awal berdirinya, Go-Jek yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini belum mengandalkan situs web ataupun aplikasi smartphone. Go-Jek masih mengandalkan panggilan telepon.

Baru pada tahun 2015 ketika Go-Jek membuat aplikasi smartphone, Go-Jek berkembang dan menjadi salah satu startup unicorn. Istilah unicorn disematkan pada startup yang nilainya mencapai 1 milyar dolar AS. Saat ini Go-Jek telah beroperasi di 10 kota besar di Indonesia dengan jumlah “armada” mencapai 200 ribu motor.

Leave a Reply