5 Hal Dasar tentang Pengelolaan Keuangan Syariah yang Perlu Kamu Tahu

Masyarakat kini sepertinya semakin sadar dengan religi. Bukan hanya pada ranah spiritualitas, namun apek-aspek duniawi dalam kehidupan juga turut diperhatikan. Enggak heran keuangan Syariah semakin mendapatkan tempat di dalam masyarakat.

Sebenarnya apa dan bagaimana sih pengelolaan keuangan Syariah itu? Biar kamu enggak gagal paham, yuk baca 5 hal dasar tentang pengelolaan keuangan Syariah berikut ini.

1. Definisi

via pixabay.com

Keuangan Syariah adalah pengelolaan keuangan yang berdasarkan pada prinsip prinsip Syariah dalam agama Islam. Perencanaan Keuangan Syariah tidak hanya dibuat untuk tujuan duniawi, namun juga untuk mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu pengelolaan keuangan Syariah dibuat berdasarkan hukum syariat yang tercantum dalam Al-Quran dan Hadits.

2. Ruang lingkup

via wikimedia.org

Pertama, adalah ruang lingkup penggunaan dana. Setiap hal yang dilakukan untuk memperoleh harta harus sesuai dengan Syariah seperti mudharabah, musyarokah, murabahah, salam, istishna, ijarah dan lain sebagainya.

Ruang lingkup ke dua adalah investasi dana. Menginvestasikan uang harus memperhatikan prinsip bahwa uang adalah alat tukar dan bukan sebagai komoditi yang bisa diperdagangkan.

Ruang lingkup terakhir adalah penggunaan dana. Penggunaan dana haruslah untuk hal-hal yang tidak dilarang agama seperti minuman keras atau judi.

3. Sejarah

via maxpixel.net

Pengelolaan keuangan Syariah pertama kali diperkenalkan oleh Rasulullah SAW ke umatnya dan kepala negara dari berbagai negara. Pada saat itu semua kekayaan negara harus dikumpulkan terlebih dahulu dan kemudian dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan negara.

Pemasukan negara selanjutnya didistribusikan seluruhnya kepada masyarakat termasuk alokasi untuk penyebaran ajaran islam, pendidikan dan juga kebudayaan. Pengelolaan keuangan ini adalah asal-muasal keuangan Syariah.

4. Keuangan Syariah di Indonesia

via wikimedia.org

Keuangan syariah di Indonesia telah berkembang lebih dari dua dekade. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bekerja sama dengan pemerintah dan pengusaha Muslim untuk mendirikan bank syariah di Indonesia pada tahun 1991 di Indonesia.

Pelopor Bank Syariah di Indonesia sendiri adalah BMI (Bank Muamalat Indonesia) yang mulai beroperasi pada tanggal 1 Mei 1992. Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara yang memiliki indeks keuangan syariah terbesar di dunia.

Saat ini OJK fokus pada pembiayaan menengah jangka panjang dan membantu masyarakat kecil. OJK memprioritaskan perbankan syariah didorong untuk masuk segmen masyarakat kecil.

5. Prinsip produk keuangan Syariah

via pixabay.com

Secara umum aktivitas ekonomi berdasarkan syariat Islam atau hukum Syariah ditentukan oleh hubungan akad. Akad ini terdiri dari 5 prinsip dasar yang kemudian menghasilkan berbagai produk Syariah:

  1. Prinsip Simpanan Murni (Al-Wadi’ah) merupakan fasilitas untuk menyimpan dana dalam bentuk al-wadi’ah. Produk dengan prinsip ini bertujuan untuk investasi guna mendapatkan keuntungan seperti giro dan tabungan.
  2. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah) adalah konsep bagi hasil usaha antara penyedia dan pengelola dana. Bentuk produk yang berdasarkan prinsip ini adalah mudharabah seperti produk pendanaan (tabungan dan deposito) maupun pembiayaan; dan musyarakah seperti pada produk pembiayaan dan penyertaan.
  3. Prinsip Jual Beli (At-Tijarah) yang menerapkan tata cara jual beli, dimana bank membeli barang yang dibutuhkan oleh nasabah. Nasabah kemudian akan membelinya dari bank ketika sudah memiliki dana sejumlah harga beli ditambah keuntungan. Produk dapat berupa murabahah, salam, dan istishna.
  4. Prinsip Sewa (Al-Ijarah) secara garis besar terdiri dari dua jenis. Pertama, ijarah (sewa murni) seperti penyewaan alat-alat produksi (operating lease) yang dibutuhkan oleh nasabah dalam waktu dan harga yang telah disepakati. Kedua, bai al-takjiri atau ijarah al-muntahiya bithamlik, yang merupakan gabungan sewa dan beli dimana penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa (financial lease).
  5. Prinsip Jasa/Fee (Al-Ajr Walumullah) meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang diberikan bank. Bentuk produk berdasarkan prinsip ini antara lain adalah Bank Garansi, Kliring, Inkaso, Jasa, Transfer, dan lain-lain.

Itulah beberapa hal dasar mengenai pengelolaan keuangan Syariah. Kalau kamu tertarik untuk mulai melakukan pengelolaan keuangan secara Syariah, kenapa enggak coba dulu dari 5 hal di atas. Beri tahu kami perkembanganmu di kolom komentar ya.


 

Leave a Reply