5 Hal mengenai Penyakit Depresi yang Perlu Dipahami

Penyakit depresi akhir-akhir ini sering kita dengar. Katanya, gaya hidup manusia modern yang serba cepat dan kompetitif yang menyebabkan banyak orang semakin banyak terkena depresi. Sebenarnya apa sih depresi itu dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk baca terus.

1. Apa itu depresi?

via pixabay.com

Depresi berbeda dengan perasaan moody atau sedih yang biasa kita alami saat ada masalah. Perasaan ini adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perasaan tersebut dalam periode lama (minggu, bulan atau tahun) tanpa alasan tertentu.

Perasaan depresi adalah kondisi serius yang mempengaruhi keadaan fisik dan mental. Ini juga mempengaruhi perasaan seseorang, bagaimana mereka berpikir, dan melakukan aktifitas keseharian seperti tidur, makan, atau bekerja.

2. Gejala

via pexels.com

Seseorang yang mengalami depresi dapat memiliki beberapa gejala umum baik setiap hari maupun hampir setiap hari, setidaknya selama dua minggu. Gejala terjadi sesuai dengan tingkat depresi yang dialami.

Beberapa gejala ini adalah perasaan sedih, cemas atau kosong; merasa pesimis atau enggak berdaya; kesal; merasa bersalah, enggak berguna; kehilangan ketertarikan pada hobi dan kegiatan yang disukai; kurang energi dan merasa lelah setiap saat; berbicara dan bergerak lebih pelan; enggak bisa diam; sulit konsentrasi, mengingat; sulit tidur; perubahan pola makan; pikiran-pikiran ingin bunuh diri; sakit badan, pusing, kram, atau masalah pencernaan tanpa penyebab yang jelas dan enggak dapat ditangani secara medis.

3. Jenis

via maxpixel.freegreatpicture.com

Depresi memiliki berbagai jenis. Masing-masing memiliki penyebab dan gejala serta tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Depresi Klinis

Gejalanya adalah mood yang buruk dan hilangnya ketertarikan terhadap hobi dan kegiatan yang biasanya disukai, termasuk gejala-gejala depresi lain. Depresi klinis dapat dibedakan lagi menjadi 3 jenis:

1. Melankolia

Jenis depresi berat dan salah satu gejala umumnya adalah penderita mulai bergerak lebih lambat.

2. Depresi Psikotis

Penderita akan mengalami psikosis. Hal ini dapat meliputi halusinasi, delusi dan paranoia.

3. Depresi Antenatal dan Postnatal

Depresi jenis ini dialami oleh perempuan selama kehamilan (periode antenatal atau prenatal) dan setahun setelah melahirkan (periode postnatal). Banyak faktor yang dapat menyebabkan depresi jenis ini. Faktor paling umum adalah perubahan hormon yang mempengaruhi 80% perempuan pada periode ini.

Hampir 10% perempuan akan mengalami depresi selama kehamilan dan 16% pada tiga bulan setelah kelahiran. Depresi ini sering juga dinamakan baby blues.

Gangguan Bipolar

Penderita mengalami periode depresi dan periode mania yang bergantian dengan periode normal di antaranya. Gejala meliputi perasaan eforia, energi berlimpah, terlalu banyak pikiran, merasa enggak perlu tidur, susah fokus, dan merasa frustasi maupun kesal. Terkadang penderita mengalami gejala psikosis.

Gangguan Cyclothymic 

Sering disebut sebagai jenis depresi bipolar yang ringan. Penderita mengalami fluktuasi mood kronis selama setidaknya dua tahun dengan periode normal enggak lebih dari dua bulan.

Gangguan Dysthymic

Gejalanya menyerupai depresi klinis namun lebih ringan tapi lebih lama. Penderita akan mengalami jenis depresi yang lebih ringan dari depresi klinis setidaknya lebih dari dua tahun.

Seasonal affective disorder (SAD)

Disebut juga gangguan afektif musiman. Penyebabnya enggak bisa dipastikan, tapi studi menunjukkan adanya hubungan dengan perubahan cahaya matahari pada musim yang berbeda.

Hal ini biasanya ditemui pada negara-negara yang memiliki hari cerah lebih sedikit dan periode hari mendung atau tanpa matahari lebih banyak. Seperti tempat-tempat beriklim dingin di di belahan bumi bagian Utara.

4. Cara menangani

via staticflickr.com

Kalau kamu merasa dirimu atau orang terdekatmu mengalami depresi, jangan takut. Ada banyak cara kok yang bisa ditempuh untuk menanganinya.

Pengobatan

Kini banyak obat-obat antidepresan yang efektif menangani depresi. Obat-obatan ini memperbaiki otakmu menggunakan kmiawi tubuh yang dapat mengendalikan mood dan stres.

Biasanya obat-obatan ini membutuhkan waktu 2 sampai 4 minggu sampai efeknya benar-benar terasa. Ingat untuk selalu meminta saran dokter sebelum mengkonsumsi atau menghentikan konsumsi obat-obatan ini.

Psikoterapi

Terdapat beberapa jenis psikoterapi yang dapat menangani depresi. Di antaranya adalah terapi bicara atau konseling.

Terapi stimulasi otak

Jika pengobatan dan psikoterapi enggak juga mengurangi gejala depresi, kamu bisa mencoba terapi stimulasi otak atau electroconvulsive therapy (ECT). Terapi ini menggunakan listrik yang dialirkan ke otak saat penderita berada di bawah pengaruh anestesi.

5. Gaya hidup yang membantu

via pexels.com

Selain pengobatan, kamu juga perlu mulai menjaga pola hidupmu untuk mencegah depresi dan mengurangi resiko terkena depresi. Usahakan untuk berolahraga secara teratur, miliki tujuan hidup yang realistis, luangkan waktu dengan orang-orang yang kamu kasihi. Kamu juga bisa mendiskusikan keputusan yang ingin kamu ambil dengan orang-orang terpercaya, teruskan edukasi dirimu mengenai depresi.

Apakah kamu atua orang terdekatmu merasakan depresi? Kalau iya, bagaimana kamu mengatasinya? Yuk share pengalamanmu dengan menuliskannya di kolom komentar di bawah ini.


 

Leave a Reply