5 Jenis Bawahan yang Sulit Diatur dan Cara Menanganinya

Semua orang pasti ingin jadi bos, tapi enggak semua orang tahu kalau jadi atasan itu susah banget loh. Tanggung jawab yang besar ditambah dengan beban pikiran untuk membuat keputusan bikin enggak semua orang layak jadi pemimpin. Dari semua tantangan itu, enggak ada yang lebih bikin sebal dari orang-orang yang pernah ngerasain jadi atasan daripada menangani bawahan yang sulit diatur.

1. Selalu jadi korban

via pixabay.com

Tipe bawahan ini selalu merasa menjadi korban dan orang yang paling enggak bisa diandalkan di kantor. Mereka selalu merasa menjadi korban bahkan ketika dia yang melakukan kesalahan.

Mereka seringkali negatif dan menghadapi konflik secara pasif agresif. Seperti misalnya, enggak pernah menolak pekerjaan sampai akhirnya kewalahan dan meninggalkan pekerjaan itu karena merasa menjadi korban dan akhirnya satu kantor kena masalah.

Cara menangani bawahan seperti ini adalah dengan menerapkan batasan. Dengarkan apa yang ingin dia utarakan. Berikan pernyataan bahwa kamu sudah mengerti permasalahannya. Tapi harus ditekankan bahwa dia masih memiliki tugas yang harus diselesaikan.

Berikan bahasa yang jelas bahwa dia memiliki tanggung jawab dan jelaskan apa saja yang harus dia lakukan. Berikan bahasa tubuh yang memberikan batasan seperti menyilangkan tangan, mengalihkan pandangan atau membalikkan badan. Jangan berikan alasan untuk si korban meneruskan keluh kesahnya.

2. Si tukang kabur

via wikimedia.org

Si tukang kabur ini seringkali mengutarakan berbagai macam alasan untuk kabur dari tugas atau kantor. Mereka sering absen dengan alasan sakit, menolak untuk mengerjakan tugas karena masih punya banyak deadline, atau minta ijin keluar kantor untuk alasan yang enggak jelas.

Tipe bawahan seperti ini biasanya enggak merasa cocok bekerja di tempat kerjamu. Cara terbaik adalah dengan berdiskusi dengannya mengenai kecocokannya bekerja di kantormu. Kalau enggak, siap-siap untuk melepaskannya.

3. Pemalas

via pixabay.com

Bawahan tipe ini berbeda dengan si tukang kabur atau bawahan yang kerjanya kurang baik. Bawahan yang enggak bisa mengikuti beban kerja biasanya belum punya keahlian yang cukup atau belum beradaptasi. Sedangkan si pemalas adalah mereka yang enggak mau bekerja sesuai dengan porsinya.

Dia bukannya enggak nyaman di kantormu seperti si tukang kabur, dia hanya ingin sebisa mungkin untuk menghindari bekerja. Kamu akan sering melihat dia banyak keliling kantor mengerjakan hal-hal enggak penting seperti mengobrol, main hape, menghilang ke dapur kantor untuk santai-santai, dan lain sebagainya.

Untuk bawahan semacam ini kamu perlu jeli melihat trik-triknya dalam menutupi ketidakproduktifitasan mereka. Cermati gerak-geriknya dan tegur langsung ketika ketahuan sedang bermalas-malasan. Cek perkembangan pekerjaannya secara berkala. Kalau dia tau bahwa akal bulusnya sudah ketahuan, dia enggak akan berani macam-macam lagi dan bekerja lebih keras.

4. Agresif

via pexels.com

Tipe bawahan agresif adalah salah satu jenis bawahan yang paling sulit untuk ditangani. Mereka dapat dikenali dengan mudah karena kasar, pemaksa dan sering melontarkan kata-kata yang keras. Jika terprovokasi mereka akan menyerang tanpa ragu-ragu. Mereka membuat suasana kerja menjadi panas.

Sebagai atasan kamu pertama-tama perlu mengetahui apa yang menyebabkan bawahanmu tersebut berlaku seperti itu dan coba bicarakan untuk mencoba mengatasinya. Kalau dia enggak merasa perbuatannya bermasalah, berikan masa percobaan.

Berikan komando untuk mengikuti program rencana pengembangan diri selama minimal satu bulan, atau lebih baik lagi selama 3 bulan. Kalau enggak ada perubahan, sebaiknya kamu melepaskan bawahanmu itu.

5. Narsis

via staticflickr.com

Para narsis ini enggak suka kerja tim. Dia merasa paling pintar dan paling mampu sehingga enggak mau bekerjasama dengan kolega lain, apalagi dikritik. Bawahan tipe ini akan sulit untuk menerima pengarahan dan berkomitmen pada suatu tugas.

Mereka merasa caranya adalah yang paling bagus. Tentu saja sifat ini dapat menghambat alur kerja. Bawahan narsis dapat diarahkan jika mereka memiliki motivasi atau tujuan yang cukup kuat sehingga mereka bersedia untuk lebih fleksibel.

Berbicaralah dengan mereka untuk mencari tahu aspirasinya dan diskusikan dengan cara apa hal itu dapat tercapai dengan tetap mempertimbangkan tujuan bersama. Kalau mereka memang berbakat dan pintar, berikan ruang agar mereka dapat berpikir sendiri dan mengambil analisa tapi tetap berikan arahan dan penyesuaian ketika diperlukan.

Apakah kamu memiliki rekan sekerja seperti ini? Jika ya, bagaimana kamu menghadapinya? Tulis jawabanmu di kolom komentar di bawah ini ya.


 

Leave a Reply