5 Hal yang Dapat Kita Pelajari dari Manajemen Jepang

Jepang terkenal dengan kinerjanya yang tinggi dan pertumbuhan ekonominya yang pesat. Hal ini ternyata berasal dari manajemen Jepang yang disiplin dan didasari oleh kebijaksanaan lokal mereka yang sudah ratusan tahun lamanya. Kalau kamu ngefans dengan segala sesuatu yang berbau Jepang, jangan cuma mengikuti manga dan animenya saja. Yuk ikuti budaya kerjanya yang mumpuni.

1. Keputusan berdasarkan konsensus

Manajemen Jepang
via media.defense.gov

Orang Jepang membuat keputusan setelah melalui diskusi panjang yang akhirnya menghasilkan konsensus. Bagi mereka, aspek terpenting dari pembuatan keputusan adalah memahami permasalahannya. Apakah perlu membuat keputusan dan tentang apa keputusan tersebut?

Pada tahap ini, mereka akan berusaha mencapai konsensus sehingga tidak ada pihak yang merasa dipaksa mengikuti keputusan. Proses ini biasanya memakan waktu lama. Namun ketika sudah mencapai konsensus mereka akan langsung mengambil aksi.

Aksi ini akan dapat dilakukan secara efektif karena keputusan yang dibuat adalah konsensus sehingga tidak akan ada hambatan yang berarti untuk merealisasikan keputusan tersebut. Sistem Manajemen Jepang  ini mendorong untuk membuat keputusan besar daripada banyak keputusan-keputusan kecil.

Terlalu banyak sumber daya yang terserap jika hanya mendiskusikan dan merealisasikan keputusan kecil. Keputusan ini juga tidak akan banyak membuat perubahan berarti pada kebijakan dan kebudayaan suatu organisasi. Contoh dari penerapan sistem ini dapat dilihat ketika suatu perusahaan Jepang membuat proposal joint venture dengan perusahaan lain.

Mereka akan memulai dengan pertanyaan, “Apakah kita akan membuat perubahan yang baik bagi perusahaan dengan joint venture ini?”. Ketika suatu keputusan konsensus dihasilkan perubahan tersebut akan diterima oleh semua pihak di dalam perusahaan tersebut dan mereka akan fokus pada kerja.

2. Keamanan dan jaminan bekerja

Manajemen Jepang
via wikimedia.org

Kebijakan kepegawaian di manajemen Jepang  yang mempekerjakan pegawainya seumur hidup memberikan jaminan dan rasa aman untuk bekerja. Pemecatan jarang terjadi dan biasanya pegawai di Jepang akan bekerja sampai pensiun.

Jaminan dan tunjangan kerja pegawainya disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing kelompok kerja berdasarkan umur, jenis pekerjaan dan latar belakang. Mereka juga memiliki rasa percaya antar pegawai generasi lama dan generasi muda. Umumnya Jepang percaya bahwa semakin tua seseorang, semakin produktif mereka.

Dengan gaji berdasarkan senioritas, output perjam biasanya lebih besar ketika populasi pegawai rata-rata umurnya lebih tua. Sehingga yang muda merasa aman dengan prospek gaji yang semakin baik dan masa pensiun terjamin, yang tua merasa masih dibutuhkan dan bisa produktif.

3. Terus mengembangkan diri

Manajemen Jepang 
via media.defense.gov

Karakter terpenting dari orang Jepang mengenai budaya kerja adalah keinginan mereka untuk menjadi bagian dari perubahan dan perbaikan. Rahasianya ada pada apa yang mereka sebut dengan pelatihan terus-menerus.

Hal ini berasal dari dua keterampilan khas Jepang yaitu Samurai dan kaligrafi Jepang yang memerlukan latihan tanpa henti seumur hidup. Misalnya, seorang pegawai yang ingin memperkenalkan suatu sistem baru, maka ia akan memperkenalkannya melalui pelatihan sehingga akan lebih mudah diterima oleh pegawai lain.

Hal ini berarti, pertama, setiap pegawai bahkan tingkat top manajer akan terus berlatih dan belajar sebagai bagian dari pekerjaannya sampai dia pensiun. Dua, pegawai di Jepang biasanya juga belajar pekerjaan lain yang satu level dengannya. Bahkan kalau pekerjaannya memerlukan keterampilan yang sangat khusus, dia akan terus menyempurnakan kemampuannya.

Salah satu keuntungan dari budaya manajemen Jepang ini adalah, peningkatan produktifitas dan kualitas kerja menjadi prosedur yang menyatu dengan sistem organisasi. Mereka percaya bahwa kerja pintar lebih penting dari kerja keras.

4. Berinvestasi pada generasi muda

Manajemen Jepang 
via wikimedia.org

Perusahaan maupun organisasi di Jepang biasanya mempekerjakan pegawai langsung saat lulus dari kuliah untuk bekerja sampai masa pensiun. Umumnya ini adalah satu-satunya cara untuk meniti jenjang karier. Perekrutan pegawai dari luar sangat jarang terjadi karena perusahaan lebih memilih untuk berinvestasi pada pegawai yang mereka rekrut dari muda.

Pegawai-pegawai muda ini juga diajarkan untuk saling membantu koleganya. Mereka pantang untuk menonjolkan diri sendiri dengan mengorbankan pengembangan diri orang lain, apalagi bersaing tidak sehat.

Budaya membangun generasi muda ini berasal dari tradisi Samurai yang sudah berumur ratusan tahun. Mereka memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk membangun dan membesarkan generasi mudanya.

Sistem militer di Samurai yang sarat hirarki menekankan perlunya menemukan penerus klan yang berkualitas dan mendidiknya dari muda. Para penerus ini diharapkan untuk taat meniti karier agar tidak menyinggung atasan dan seniornya. Sebaliknya mereka akan dibina oleh para seniornya.

5. Budaya mentor

Manajemen Jepang 
via pixabay.com

Setiap pegawai muda di Jepang akan diberikan mentornya masing-masing. Sistem ini sebenarnya informal namun sudah sangat mendarah daging. Mentor ini biasanya dipilih dari para pegawai senior yang sudah  berumur 45 tahun namun bukan berada pada posisi manajerial sehingga tidak rentan akan politik kantor.

Selama 10 tahun pertama masa karier seorang pegawai muda, mentor mereka akan berlaku sebagai pembina. Mereka diharapkan untuk memberi bimbingan dan saran mengenai karier dan pekerjaan.

Sebaliknya jika pegawai tersebut melakukan kesalahan dan perlu ditegur, sang mentor akan menjadi orang pertama yang diberi tahu oleh pihak manajemen untuk memberikan teguran awal. Sistem ini memudahkan seorang pegawai muda untuk memahami seluk-beluk kerja.

Menurutmu poin mana yang dapat kita ambil dan aplikasikan dari manajemen Jepang di atas? Tulis opinimu di kolom komentar di bawah ini.


 

Leave a Reply