5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Peer to Peer Lending untuk Akselerasi Bisnismu

P2P Lending atau Peer to Peer Lending di dalam dunia bisnis Indonesia kini mulai semakin dikenal. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang amat membutuhkan kemudahan investasi bagi usaha menengah dan kecil yang menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia.

Sistem P2P lending akhirnya menjadi satu pendorong ekonomi yang penting. Agar kamu tidak kehilangan momen untuk ikutan akselerasi bisnis, ayo pelajari 5 hal berikut:

1. Sistem

via inforexnews.com

Peer-to-peer lending (P2P) adalah metoda yang memungkinkan seseorang meminjam dan memberi pinjaman tanpa menggunakan institusi keuangan resmi seperti bank sebagai perantara. P2P lending biasanya beroperasi melalui online.

Perusahaan penyedia jasa P2P lending mempertemukan para pemberi pinjaman (investor) dengan para pencari pinjaman (borrower). Pemberi pinjaman dapat mencari tahu mengenai peminjam yang telah diseleksi oleh perusahaan agar mendapatkan peminjam dengan kualitas terbaik.

2. Peminjam dan Pemberi pinjaman

via insights.samsung.com

Pemberi pinjaman dapat berasal dari semua lapisan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk memberi pinjaman sementara peminjam adalah siapapun atau UMKM yang membutuhkan dana untuk mengembangkan usahanya. Jika mereka lolos seleksi dari perusahaan pemberi jasa P2P, maka mereka dapat melakukan kegiatan pinjam-meminjam.

3. Keuntungan

via pixabay.com

Kegiatan perbankan memerlukan uang yang tidak sedikit untuk membiayai kantor, pegawai operasional dan lain sebagainya. Sedangkan P2P yang biasanya berbasis online tidak memerlukan semua pembiayaan tersebut. Oleh sebab itu, bunga dan biaya yang diminta pun jauh lebih sedikit dengan persen keuntungan lebih besar.

Keuntungan yang lain adalah, bagi pemberi pinjaman keuntungan yang didapat melebihi keuntungan yang bisa didapat dari cara tradisional seperti tabungan bank atau investasi lewat bank. Pemberi pinjaman juga bisa mendapatkan saham dari usaha yang diberikan pinjaman, sesuai dengan besar dan aturan yang diberlakukan berdasarkan persetujuan.

Bagi peminjam, mereka bisa mendapatkan pinjaman dengan lebih mudah dibandingkan melalui bank. Kebanyakan peminjam yang melalui P2P adalah mereka yang biasanya tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman bank, baik karena tidak memiliki jaminan atau tidak memiliki besaran bisnis yang sesuai.

4. Resiko

via pixabay.com

P2P lending mengeliminir perantara dalam kegiatan pinjam meminjam modal. Oleh sebab itu prosesnya melibatkan waktu, upaya dan resiko yang lebih banyak dibandingkan cara tradisional melalui bank.

Pemberi pinjaman mendapatkan lebih sedikit kepastian dari peminjam untuk mendapatkan keuntungan maupun pengembalian dana. Para peminjam adalah mereka yang memiliki resiko gagal balik modal lebih tinggi, jadi pemberi pinjaman bergantung pada aturan kompensasi yang diterapkan oleh pemberi jasa P2P maupun kehandalan pemberi jasa dalam menyeleksi peminjam.

5. P2P Lending di Indonesia

via amartha.com

Kini P2P lending sudah mulai menemukan tempatnya di Indonesia. salah satu perusahaan P2P lending terdepan di Indonesia adalah Amartha Fintech.

Amartha Fintech adalah Lembaga Keuangan Mikro yang bertujuan untuk menjembatani pelaku usaha di pedesaan dengan keterbatasan akses permodalan. Amartha kemudian memodernisasi segmentasi permodalan usaha mikro dengan peer-to-peer lending untuk masyarakat unbanked di Indonesia. Yaitu tingkat masyarakat dengan ekonomi lemah yang tak memenuhi kedalam persyaratan bank. Mereka dapat memperoleh pinjaman antara Rp 3-10 juta.

Amartha juga menyediakan platform situs web untuk peminjam online agar mereka dapat mengakses informasi peminjam secara menyeluruh seperti pembiayaan, latar belakang, hingga skor kredit yang dimiliki untuk menganalisa kelayakan calon peminjam dan lain sebagainya. Cara untuk aplikasinyapun memudahkan masyarakat ekonomi lemah dengan cara yang user friendly.

 

Leave a Reply