5 Tujuan Wisata Religi di Cirebon yang Sayang untuk Dilewatkan

Selain memiliki julukan Kota Udang, Kota Cirebon juga dikenal sebagai salah satu pusat keagamaan di Jawa dan memiliki julukan sebagai Kota Wali. Enggak heran di kota ini banyak didirikan pesantren. Sejarah yang kental tentang pusat penyebaran agama Islam di Indonesia ini membuat Cirebon sebagai salah satu tujuan wisata religi di Indonesia.

Dulu, Cirebon adalah salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia dengan kesultanan Islam kuat di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah. Secara historis, Cirebon juga merupakan tempat dimana Sunan Gunung Jati berdakwah. Hingga sampai saat ini pengaruh keagamaan tetap sangat terasa di Cirebon.

Kalau kamu sedang berkunjung ke kota ini, jangan cuma main di pantai dan beli terasi udang. Coba selami kekayaan sejarahnya dengan mengunjungi 5 tujuan wisata religi Cirebon berikut ini.

1. Makam Sunan Gunung jati

tujuan wisata religi Cirebon
via wikimedia.org

Tujuan wisata religi di Cirebon yang pertama kali harus dikunjungi jelas makam Sunan Gunung Jati. Letaknya di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon  dan buka 24 jam!

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah begitu dikenal oleh warga Cirebon karena merupakan salah satu tokoh Wali Songo. Enggak heran makamnya pun menjadi tujuan wisata yang kerap dikunjungi oleh mereka yang ingin napak tilas.

Makam Sunan Gunung Jati sendiri terletak di atas perbukitan Gunung Sembung. Karena alasan keamanan maka makamnya hanya boleh dikunjungi oleh keluarga Keraton dan keturunannya, serta para tamu kehormatan. Terdapat sembilan pintu di komplek Makan Sunan Gunung Jati. Pintu yang dimasuki oleh pengunjung adalah Lawang Krapyak.

Arsitektur dan bangunan makam Sunan Gunung Jati ini adalah perpaduan dari budaya Jawa, budaya Islam dan Cina. Terlihat dari bangunan Jawa seperti pendopo, kaligrafi dan berbagai keramik Tionghoa yang cantik.

2. Masjid Merah Panjunan


Masjid tua dengan arsitektur yang unik ini berada di Desa Panjunan, Lemahwungkuk, Cirebon. Awalnya, masjid ini semula bernama Mushala Al-Athya namun karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan, Masjid Merah Panjunan.

Didirikan pada 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan, seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Pada tahun 1949, cicit Sunan Gunung Jati membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid sehingga menjadi masjid merah yang terkenal sekarnag ini.

Meskipun pendiri Masjid Merah Panjunan adalah seorang keturunan Arab, namun pengaruh budaya Arab terlihat sangat sedikit pada arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan ini. Pangeran Panjunan berinisiatif membangun Mushola tersebut menjadi masjid dengan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha serta gaya Jawa dan Cina.

3. Masjid Agung Cirebon Sang Cipta Rasa

tujuan wisata religi Cirebon
via staticflickr.com

Terletak di depan Kraton Kasepuhan, masjid ini merupakan salah satu Masjid tertua di Jawa. Dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Permaisuri Kesultanan Cirebon Nyi Ratu Pakungwati. Pembangunan masjid ini dibantu oleh Wali Songo dan beberapa tenaga Ahli yang dikirim oleh Sultan Demak, Raden Patah.

Pada tahun 1549 masjid ini terbakar. Ditempat yang sama kemudian dibangun Masjid Agung yang baru yaitu Masjid Agung Kraton yang sekarang ini. Masjid ini memiliki bangunan utama dari bata dan berdinding merah, dengan atap bertingkat-tingkat.

Atap di bagian pelataran dibuat rendah seperti rumah Joglo. Memperlihatkan peleburan budaya Jawa yang sangat kental. Tempat berwudhu-nya masih tradisional, yaitu bak bulat dan kendi besar berisi air. Uniknya, pintu masuk utamanya sangat kecil sehingga orang dewasa harus membungkuk masuk. Rupanya, hal ini mengandung filosofi penghormatan untuk masuk ke masjid yang menjadi rumah Allah.

Terdapat satu kisah ajaib tentang masjid ini. Konon, pembangunan masjid ini hanya memakan waktu semalam saja! Hal ini bahkan tertuang dalam buku sejarah Babad Tanah Cirebon.

Sunan Kalijaga yang menjadi arsiteknya memimpin pembangunan masjid sejak maghrib sampai subuh datang menjelang. Salah satu bagian masjid ini, sokoguru, bahkan konon dibangun oleh Sunan Kalijaga, yaitu kepingan-kepingan kayu yang disusun menjadi tiang sekatal.

4. Kelenteng Talang

Kelenteng Talang memang bukan tujuan wisata religi Cirebon yang biasa. Kelenteng ini memiliki pengaruh penyebaran agama Islam yang sangat kental. Nama kelenteng ini sebelumnya bernama Sam Po Toa Lang yang artinya adalah orang-orang besar. Nama itu diambil untuk menghormati tiga tokoh besar muslim utusan dinasti Ming yang pernah singgah di Cirebon, yaitu Laksamana Cheng Ho, Laksamana Kung Wu Ping, dan Laksamana Fa Wan.

Kelenteng Talang ini sendiri adalah sebuah Kelenteng Konghucu. Hal ini terlihat dari filosofi khas Konghucu pada tulisan di papan yang menempel pada dinding Kelenteng Talang. Filosofi tersebut berbunyi “Di dunia ini ada dua hal yang susah, memanjat langit itu susah, meminta bantuan orang lain lebih susah’.

Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang pahit, buah Huang-lian itu pahit, hidup orang miskin lebih pahit. Di dunia ini ada dua hal yang rawan, dunia Kang-ouw itu rawan, hati manusia lebih rawan. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang tipis, kertas itu tipis, nurani manusia lebih tipis.”

Menariknya, pada papan di tembok Kelenteng terdapat silsilah dari Hayam Wuruk, Raja terbesar Kerajaan Majapahit sampai ke pendiri Kelenteng Talang, Tan Sam Cay. Silsilah ini menunjukkan kedekatan darah raja-raja Jawa dan keturunannya dengan para Cina perantauan dan keturunannya.

Raden Patah misalnya, Sultan Demak pertama yang memerintah 1455 – 1518, disebut-sebut sebagai Pangeran Jin Bun, dan dikatakan sebagai anak Kertabumi (Raja yang memerintah Majapahit pada 1474 – 1478) dari seorang isteri Cina, anak babah Ban Hong.

5. Gua Maria Sawer Rahmat

Selain destinasi wisata yang berlatar belakang agama Islam, kamu juga bisa mengunjungi destinasi wisata religi dari pemeluk agama Katolik ini. Gua Maria Sawer Rahmat terletak di desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Diresmikan tahun 1990 oleh Kardinal Tomko, Gua Maria Sawer terletak di kaki gunung Ceremai sekitar 700 km diatas permukaan laut.

Gua Maria Sawer Rahmat adalah destinasi paling terkenal baik bagi pemeluk agama Katolik maupun turis. Gua besar ini memiliki patung Maria berwarna putih setinggi dua meter dan berdiri dengan tangan terkatup. Dibawah patung Maria ada banyak bunga-bunga dan lilin-lilin yang dinyalakan peziarah.

Suasana di sekitar Gua Maria Sawer sangatlah asri. Pedesaan yang hijau dan persawahan yang indah serta udara yang dingin khas dataran tinggi membuat perjalanan ke sana semakin menyenangkan. Sungguh menyenangkan untuk dikunjungi.

Tertarik untuk mengunjungi Cirebon untuk mengisi liburanmu nanti? Yuk kunjungi lima tempat tujuan wisata religi tersebut di atas untuk menambah wawasanmu!


 

Leave a Reply