5 Alasan Seseorang Berbelanja, Tipe Manakah Kamu?

Banyak dari kita yang menjalani hidup dengan sadar namun tidak benar-benar sadar. Padahal, mempelajari pola hidup dan kebiasaan dapat membuatmu memahami mengapa kamu melakukan sesuatu. Sama halnya dengan mengelola keuangan. Mengatur keuangan dengan mengenali kebiasaanmu berbelanja dapat mengubah kebiasaanmu berbelanja menjadi lebih bijak.

Namun terkadang kita berbelanja, mengeluarkan uang, melakukan pemborosan, tanpa berpikir dan akhirnya harus membayar konsekuensinya. Coba ingat-ingat, jelaskan apa emosi yang sedang kamu alami saat kamu sedang berbelanja?

1. Saya sedang bersenang-senang bersama teman atau keluarga.

Mengatur Keuangan dengan Mengenali Kebiasaanmu Berbelanja
via wikimedia.org

Alasan kamu berbelanja: Hiburan

Semua pusat perbelanjaan di dunia menerapkan teknik yang sama, yaitu membuat tempatnya bukan sekedar menjadi tempat berbelanja namun juga bersosialisasi. Orang datang untuk bertemu teman, ngumpul bareng, makan bareng, dan akhirnya berbelanja bareng.

Cara menahan diri: Tunda, tunda, tunda. Solusinya adalah dengan menunda untuk melakukan pembelian. Ketika kamu berbelanja untuk menghibur dirimu maka kamu membeli untuk membuatmu dirimu senang. Kamu akan merasa bersalah kalau enggak belanja. Kamu akan memiliki beberapa pemikiran seperti “Masa kamu enggak belanja apa-apa padahal temanmu sudah membeli sepatu dan baju?”, “Masa kamu enggak beli sama sekali padahal sudah lihat-lihat di dalam toko sampai setengah jam?”. Kalau kamu memang memerlukannya atau sangat menginginkannya kamu tetap bisa membelinya besok. Memberi jarak dengan barang yang ingin kamu beli akan membuat keputusanmu lebih rasional.

2. Saya merasa kosong dan kesepian atau sedang ingin membeli sesuatu untuk memperbaiki mood.

5 Alasan Seseorang Berbelanja, Tipe Manakah Kamu?
via pexels.com

Alasan kamu berbelanja: Memperbaiki mood

Kamu pernah dengar retail therapy atau terapi belanja? Istilah ini untuk menjelaskan orang-orang yang berbelanja untuk mengisi kekosongan hidupnya. Wow, terdengar filosofis sekali ya? Namun ini benar adanya. Banyak orang yang enggak sadar kenapa jadi gila belanja, ternyata alasannya karena mereka enggak bahagia. Mereka secara enggak sadar merasa bahwa kalau mereka membeli celana keren yang ada di etalase mereka akan kelihatan lebih keren dan hidup akan jadi lebih baik.

Cara menahan diri: Kalau kamu pernah merasa seperti itu, maka kamu perlu mencermati kapan keinginanmu berbelanja muncul. Apakah kamu ke toko favoritmu setelah ada masalah pekerjaan? Mungkin kamu mulai iseng buka-buka toko online langganan ketika kamu sedang berantem sama pasangan? Apa kamu baru saja mendapat kenaikan gaji dan merasa perlu mentraktir dirimu? Mungkin juga kamu sedang merasa kesepian dan senang berbincang-bincang dengan penjual toko yang memperhatikan kebutuhanmu?

Seorang psikolog bernama April Benson menciptakan kartu dengan 6 pertanyaan untuk pasiennya yang memiliki kebiasaan belanja enggak sehat. Kartu ini harus diletakkan di dompet mereka dan terlihat setiap kali membuka dompet. Kamu boleh coba membuat kartu dengan 6 pertanyaan di bawah ini dan tanyakan dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan tersebut sebelum membeli.

  • Kenapa saya ada di sini?
  • Bagaimana perasaaanku?
  • Apakah saya memerlukannya?
  • Bagaimana kalau saya menunda dulu?
  • Bagaimana saya membayarnya?
  • Dimana saya akan menaruhnya?

3. Saya sedang menghabiskan waktu dan membeli sesuatu hanya karena kebetulan ada.

via wikimedia.org

Alasan kamu berbelanja: Kebiasaan

Terkadang kita berbelanja karena sudah terbiasa. Misalnya kita selalu melewati toko favorit setiap kali pulang pergi kerja, jadi kita suka pergi kesana seminggu sekali untuk melihat apa ada yang baru atau diskon. Kalau kamu belanja makanan tiap hari karena malas masak, ada kemungkinan kamu jadi sering belanja hal-hal di luar rencana. Belanja online memperparah kebiasaan belanja yang enggak sehat ini. Kamu bisa melihat apa yang sedang dijual hanya dengan membuka smartphone-mu. Sekali kamu ditandai sebagai pembelanja rutin, kamu akan dikirimi berbagai penawaran dan promo untuk semakin banyak berbelanja.

Cara menahan diri: Secara umum, ada serangkaian kejadian yang akhirnya membuatmu melakukan pembelian. Coba pikirkan, misalnya kamu selalu melewati toko buku dalam perjalanan antara kantormu dengan mobilmu di tempat parkir. Kamu masih punya waktu 15 menit sebelum pulang dan memutuskan untuk melihat-lihat. Kamu melihat buku yang menurut majalah People adalah best seller dan karya sastra modern terbaik. Akhirnya kamu memutuskan beli padahal di rumah sudah ada tumpukan buku yang belum dibaca.

Apa yang seharusnya kamu lakukan untuk menahan diri? Kamu bisa memutuskan untuk lewat jalan lain, atau keluar kantor lebih lama, atau mungkin parkir di tempat lain. Pikirkan berbagai hambatan agar kamu enggak membeli hal-hal yang enggak kamu butuhkan.

4. Saya ingin membeli sesuatu namun membeli hal lain di luar rencana

5 Alasan Seseorang Berbelanja, Tipe Manakah Kamu?
via pixabay.com

Alasan kamu berbelanja: Impuls

Toko jaman sekarang didesain untuk menarik dan menyenangkan ke 5 indera yang kamu miliki. Kamu akan digoda untuk menyentuh, melihat, membaui, mendengar dan bahkan mencicipi. Kalau kamu enggak tahan godaan, kamu bisa terjebak membeli barang hanya karena enggak kuat iman.

Cara menahan diri: Lebih besar kemungkinan kamu membeli karena impuls ketika dalam keadaan fisik dan mental enggak prima. Mungkin kamu lelah setelah seharian bekerja, atau stres karena anak sakit di rumah. Apapun alasannya, stres seperti ini membuatmu lebih rentan melakukan pembelian karena impuls. Jangan pergi ke tempat perbelanjaan atau melihat-lihat toko online kalau habis meminum minuman keras, bertengkar dengan orang dekat atau mengalami hari yang buruk.

5. Saya merasa bergairah, kehilangan kendali, dan tak bisa menghentikan diri sendiri.

via pexels.com

Alasan kamu berbelanja: Perilaku kompulsif

Beda antara berbelanja karena impuls dan perilaku kompulsif adalah frekuensinya. Belanja karena impuls terjadi ketika kamu sesekali melakukan pembelian yang enggak direncanakan karena impuls. Sedangkan berbelanja secara kompulsif adalah ketika kamu berbelanja melebihi kebutuhan dan merasa enggak bisa berhenti.

Terdapat 4 jenis pembelanja kompulsif yang memiliki alasan yang berbeda untuk berbelanja, yaitu:

  • Balas Dendam. Pecandu belanja untuk balas dendam adalah berbelanja untuk membalas dendam kepada orang lain, biasanya pasangan, yang saling memiliki masalah komunikasi.
  • Eksistensial. Pecandu belanja eksistensial berbelanja karena menemukan barang yang tepat dengan harga yang tepat membuat mereka merasa penting dan memberikan makna hidup.
  • Serial. Pecandu serial adalah orang yang kecanduannya akan berbelanja adalah salah satu dari kecanduannya yang lain, seperti kecanduan makan, alkohol, obat-obatan dan lain sebagainya.
  • Mood. Pecandu belanja jenis ke tempat berbelanja untuk menaikkan mood-nya. Bedanya dengan kelompok pertama yang berbelanja untuk memperbaiki mood, ketika seorang pecandu belanja kompulsif bersiap-siap untuk belanja, mood-nya naik dengan stabil, detak jantungya makin cepat, telapak tangannya berkeringat. Ketika dia berbelanja, moodnya sampai ke puncak dengan cepat lalu jatuh dengan cepat pula. Perasaan bahagianya cepat hilang dan digantikan oleh perasaan bersalah.

Cara menahan diri: Enggak ada cara cepat untuk pecandu belanja kompulsif. Orang-orang yang berbelanja secara kompulsif perlu membangun sistem emosi yang dapat membantu mereka mentoleransi stres dan masalah dalam hidup mereka. Kalau kamu adalah salah satu di antaranya, disarankan untuk mencari bantuan psikologis.

Nah, setelah kamu baca lima alasan di atas, kira-kira tipe yang manakah kamu?


 

Leave a Reply