Mengenal 5 Hal tentang Festival Bakar Tongkang di Riau

Festival Bakar Tongkang yang diselenggarakan di kota yang punya julukan Hong Kong van Andalas, ini selalu dibanjiri oleh puluhan ribu orang wisatawan tiap tahunnya. Tiap tahunnya ribuan wisatawan baik domestik maupun internasional membanjiri Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Tahun ini saja, jumlah wisatawan mencapai 47 ribu orang! Penasaran apa serunya festival ini?

1. Asal-usul

Ritual yang dalam bahasa Hokkien dikenal dengan nama Go Gek Cap Lak ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lamanya. Lebih tepatnya sejak 134 tahun silam. Ritual ini dilakukan untuk memperingati kedatangan masyarakat Tionghoa ke Riau pada tahun 1820.

Sampai sekarang ritual masih dilakukan sebagai simbol bahwa masyarakat Tionghoa yang datang enggak akan kembali lagi ke tanah leluhur dan menetap di Riau. Festival ini juga untuk merayakan keragaman dan kerukunan di Riau.

2. Prosesi

Festival Bakar Tongkang diawali dengan upacara sembahyang di kelenteng Ing Hok Kiong yang merupakan kelenteng tertua di kawasan Pekong Besar. Lalu acara dilanjutkan dengan arak-arakan ke tempat pembakaran hingga berlanjut ke prosesi pembakaran di hari berikutnya.

Prosesi pembakaran tongkang biasanya diawali dengan menetapkan posisi haluan tongkang sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya atau Dewa laut. Setelah mengetahui posisinya, tongkang akan diletakkan pada lokasi pembakaran di atas kertas sembahyang ditimbun dekat lambung kapal dan siap untuk dibakar,

Uniknya, ada satu tradisi menarik yang dilakukan oleh berbagai kelenteng di Bagansiapiapi selama ritual berlangsung, yaitu upacara pemanggilan roh. Sukarelawan yang mengajukan diri akan menjadi medium untuk dirasuki roh.

3. Kepercayaan

Tongkang perahu pada upacara ini memiliki tiang yang tinggi. Hal ini bukan tanpa sebab karena arah tumbang tiang kapal saat dibakar diyakini sebagai arah datangnya rejeki tahun itu. J

adi ketika tiang tumbang ke arah laut, maka mereka meyakini bahwa rejeki akan datang dari arah laut, kalau ke arah darat maka akan datang dari darat. Kepercayaan ini tentu lebih dipercaya pada jaman dahulu ketika profesi masyarakatnya masih lebih sederhana.

4. Destinasi wisata sekitar

Kalau kamu datang ke festival ini, jangan lewatkan tujuan wisata di sekitarnya. Pulau Jemur misalnya, terkenal dengan hewan endemik yang sudah sangat langka dan dilindungi di seluruh dunia, yaitu penyu. Di pulau ini kamu bisa melihat, tapi dilarang untuk mengganggu, penyu-penyu yang datang ke pantai dan bertelur.

Pulau Jemur terdiri dari gugusan pulau-pulau yang terdiri dari Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik serta pulau-pulau kecil lainnya. Panoramanya juga indah dan cocok untuk berlibur.

Selain itu jangan masih banyak tujuan wisata lain yang menarik juga untuk dikunjungi. Enggak main-main ada berbagai tujuan wisata seperti Goa Jepang, Menara Suar, bekas tapak kaki manusia, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, Taman Laut dengan pantainya yang berpasir kuning emas, Pulau Tilan, Danau Nupangga, Obyek Wisata Batu Enam, Danau Janda Gatal, Taman Bay Park, Danau Buatan Pedamaran, Jembatan Pedamaran, Bono Sungai Rokan, Kampung Wisata Rantau Bais, dan Telaga Tegenang.

5. Kuliner

Nikmati juga wisata kuliner selama festival berlangsung yang dijamin enggak akan bikin kecewa. Yang pertama tentu saja sambal belacan yang sudah terkenal kenikmatannya itu.

Selain itu ada berbagai kuliner terkenal di daerah Rokan Hilir seperti emping padi, misua rebus, anyang pangkek, rendang kerang, sarak terung, sup ikan kepala batu, asam pedas keladi, dan anyang pucuk babueh. Kalau kamu ingin mencoba minuman khasnya, kamu bisa mencoba jus buah Nipah, air serbat, mentimun terong serta kolding.

Tertarik untuk melihat langsung kebudayaan Indonesia yang unik ini? Ayo rencanakan acara liburanmu di bulan Juni nanti ke Riau!


 

Leave a Reply