5 Cara Mengenali dan Mencegah Proyeksi Diri yang Merusak

Kamu pernah enggak merasa bahwa bosmu sentimen kepadamu padahal ternyata memang kamu yang membuat kesalahan pada pekerjaan? Seringkali kecemasan dan tekanan yang kita rasakan dari orang lain adalah refleksi dari apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri. Dalam psikologi, hal ini dinamakan dengan proyeksi diri.

Proyeksi diri adalah ketika kamu secara enggak sadar menghindari tanggung jawab akan perasaan dan pikiranmu sendiri untuk kemudian dilimpahkan sebagai kesalahan orang lain. Akibatnya, kamu jadi enggak berkembang dan kehidupan sosialmu juga kena dampaknya. Supaya enggak terjebak pada kesalahan ini, yuk kenali dan pahami bagaimana mencegah proyeksi diri.

1. Berhenti menyangkal

mencegah proyeksi diri
via maxpixel.freegreatpicture.com

Proyeksi diri terjadi ketika kita menyangkal perasaan kita sesungguhnya sehingga kita akhirnya melimpahkannya pada orang lain. Mulai putus pola jelek ini dengan menyadari ketika kita melakukannya.

Sebagai contoh, ketika kita merasa sangat marah kita malah mengatakan kita enggak apa-apa. Ketika kamu menyadari telah melakukan pola buruk ini, segera ambil napas dalam dan bertanyalah pada dirimu sendiri, “Apa yang sesungguhnya sedang saya pikirkan dan rasakan saat ini?”

Kalau kamu sulit untuk menyadari ketika kamu melakukan pola burukmu, coba luangkan lebih banyak waktu sendirian. Meluangkan waktu me time bukan berarti nonton TV sendirian di rumah.

Saat sendirian ini adalah saat kamu belajar mendengarkan dirimu. Kamu bisa mencoba menulis jurnal, membaca buku kepribadian, visualisasi impian, melakukan sesi pengembangan diri atau sesi terapi.

2. Pertanyakan kebenaran pikiranmu

via staticflickr.com

Hal-hal yang menimbulkan reaksi paling keras dalam diri kita adalah hal-hal yang sesungguhnya paling signifikan bagi kita. Sebagai contoh, kamu melihat selebriti yang foya-foya di TV dan merasa kesal. Ternyata, rasa kesal ini datang dari rasa bersalah karena kita sebenarnya kecanduan belanja.

Ketika kita memiliki kepercayaan diri rendah, biasanya kita jadi menyalahkan orang atau hal lain. Proyeksi diri adalah cara kita menyangkal apa yang sesungguhnya kita pikirkan dan rasakan.

Kamu perlu memahami bahwa pikiranmu merupakan campuran dari asumsi, kepercayaan yang sudah mengakar, dan keraguan. Enggak heran pikiran kita seringkali salah. Mulai pertanyakan kebenaran pikiranmu mengenai orang lain.

Tanyakan kepada dirimu sendiri, “Apakah saya benar-benar tahu apa yang orang lain pikirkan?”, “Apakah saya punya fakta yang mendukung asumsi saya?”, “Apakah saya sungguh dibenci?”

3. Pelajari polamu

via pixabay.com

Mulai kenali situasi apa saja dan siapa saja yang memicumu melakukan proyeksi diri. Apakah kamu sering melakukannya di tempat kerja? Apakah saat kamu bersama pasanganmu? Lalu tanyakan pada dirimu sendiri apa yang membuatmu melakukan proyeksi tersebut.

Apakah kamu melakukan proyeksi ketika pasanganmu cemburuan? Apakah kamu melakukan proyeksi di kantor ketika tekanan kerja sedang tinggi dan kamu merasa enggak kompeten?

Kamu bisa juga melihat masa lalumu untuk memahami pola burukmu. Sebagai contoh, kalau kamu melakukan proyeksi untuk menghindari meminta maaf, apakah dulu orang tuamu menghukummu dengan berat ketika kamu nakal?

Kalau kamu melakukan proyeksi ketika membicarakan seksualitas, apakah kamu lahir dari latar belakang keluarga yang konservatif?

4. Kenali kekuatanmu

via pixabay.com

Apakah kamu sering merasa bahwa banyak orang, baik di lingkungan kantor, keluarga, maupun lingkungan sehari-hari, membencimu tanpa alasan jelas? Seringkali ketika kita merasa bahwa orang lain membenci kita, hal itu merupakan proyeksi dari perasaan enggak suka kita terhadap orang tersebut.

Proyeksi diri terkadang merupakan cara untuk membuat diri kita menjadi korban. Daripada mengakui bahwa kita enggak suka dengan kolega kita, atau menegur anggota keluarga yang enggak ikut membersihkan rumah, kita menyalahkan mereka karena sering marah atau benci kita.

Orang lain mungkin bisa merasa kasihan dan akhirnya membantumu, namun kamu jadi melemahkan dirimu sendiri dan melewatkan kesempatan untuk mengubah keadaan. Hal ini terjadi karena seringkali lebih mudah bagi kita untuk melakukan proyeksi daripada jujur mengeluarkan apa yang kita rasakan.

Daripada melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, lebih baik kamu belajar mengenali kekuatanmu seperti dengan belajar bilang tidak dan menetapkan batasan. Pelajari juga cara berkomunikasi yang efektif, terutama saat stres dan berada di bawah tekanan.

Salah satu cara untuk berkomunikasi yang baik adalah dengan mendengarkan. Bukan hanya dengan kata-kata tapi juga memperhatikan bahasa tubuh dan perilaku orang lain.

5. Belajar mencintai diri sendiri

mencegah proyeksi diri
via staticflickr.com

Apa kamu sering mencemooh penampilan seseorang baik dalam hati atau diungkapkan dengan kata-kata? Ternyata, rasa enggak sukamu tersebut merupakan cerminan dari mekanisme perlindungan diri yang meredam ketidaksukaan terhadap kondisi fisikmu sendiri.

Kita takut untuk melihat ketidaksempurnaan kita dan melakukan proyeksi diri ke orang lain. Itu sebabnya kamu perlu belajar mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri berarti mencintai dirimu secara keseluruhan. Bukan hanya bagian yang kamu anggap sebagai kelebihan, namun juga semua kekuranganmu, setiap saat.

Hal ini akan mengurangi perasaan ketidaksempurnaan dan bahkan rasa benci pada dirimu sendiri yang artinya, kamu enggak perlu melimpahkannya ke orang lain.


 

Leave a Reply