Mengenal Slow Food dan 3 Prinsip yang Mendasarinya

Kalau kamu hobi makan makanan cepat saji (fast food), ada baiknya hobi itu kamu kurangi mulai dari sekarang. Walau enak dan harganya terjangkau, fast food membawa efek buruk bagi tubuh dan lingkungan. Gara-gara efek tersebut, kini banyak yang mulai beralih ke slow food.

Slow food adalah gerakan yang berupaya melawan fenomena makanan cepat saji beserta dampak buruknya. Gerakan ini mendukung bahan pangan lokal yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, konsumsi lebih lambat dan manusiawi. Pendekatannya bertolak dari konsep bahwa makanan harus bisa memenuhi tiga prinsip yang saling terhubung. Apa saja ketiga prinsip slow food tersebut?

 

1. Bersih

manfaat slow food
via pixabay.com

Perhatikan deh, dari kesan pertama saja makanan cepat saji biasanya disajikan di wadah atau bungkus yang enggak bisa didaur ulang. Proses produksi dan bahan pangannya pun sangat merusak lingkungan. Slow food ingin mengubah hal tersebut dengan mendukung produksi makanan yang bersih bagi alam alias enggak merusak lingkungan.

Prinsip pertama makanan slow food adalah dihasilkan secara organik. Bahan-bahannya hanya menggunakan sedikit atau bahkan sama sekali tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia yang merusak alam. Cara memproduksinya pun amat memperhatikan lingkungan. Praktik-praktik ramah lingkungan dilakukan, seperti konservasi air, mengurangi erosi tanah, memperbaiki kesuburan tanah, dan menggunakan lebih sedikit energi.

Konsep ramah lingkungan slow food pun hingga ke urusan distribusi. Gerakan slow food sangat menganjurkan untuk mengonsumsi bahan pangan lokal. Alasannya, dengan membeli bahan pangan lokal kamu akan membantu mengurangi jejak karbon yang dihasilkan saat pendistribusian bahan tersebut. Sebagai contoh, untuk mengirim 1 buah stroberi dari Medan ke Jakarta perlu 435 kalori. Jejak karbon itu bisa dipangkas kalau orang Jakarta mendapatkan stroberinya dari Bogor atau dari kebun sendiri.

 

2. Bagus

manfaat slow food
via staticflickr.com

Prinsip slow food yang kedua adalah mendorong konsumsi makanan yang berkualitas, enak dan sehat. Makanan cepat saji memang kadang-kadang enak, tapi hampir bisa dipastikan tidak sehat dan berkualitas. Makanan tersebut mengandung banyak zat pengawet, pewarna, perasa, dan pemanis buatan. Bahan-bahannya pun berasal dari pertanian skala besar dalam atau luar negeri yang menggunakan pupuk kimia dan pestisida.

Bandingkan dengan makanan slow food yang seperti sudah disebutkan di atas, dihasilkan secara organik. Kamu tidak perlu was-was saat menyantap jagung atau tomat atau bayam karena tidak ada kandungan zat kimia nonorganik atau pestisida di dalamnya. Produk hewaninya juga enggak terpapar bahan berbahaya seperti antibiotik atau hormon pertumbuhan.

Kalau makanannya sudah berkualitas, supaya terserap dengan baik ke dalam tubuh, cara makannya pun harus diperhatikan. Gerakan slow food mendorong kita untuk makan dengan lebih lambat dan dengan kesadaran penuh. Kunyah makanan sampai halus. Saat makan tidak dibarengi dengan aktivitas lain seperti buka-buka media sosial atau main game. Studi membuktikan cara makan seperti ini dapat membuat stres berkurang, sampai-sampai disebut meditasi makanan.

 

3. Adil

manfaat slow food
wikimedia.org

Slow food mendukung terjaminnya hak asasi manusia dalam konteks pangan secara menyeluruh, baik bagi konsumen maupun produsen dan pekerja industri makanan. Para konsumen mendapatkan makanan yang baik bagi tubuh dengan harga sepadan. Petani mendapatkan harga yang adil bagi upaya dan hasil panen yang dihasilkannya. Para pekerja industri makanan seperti di restoran juga mendapatkan upah yang layak bagi penghidupan mereka.

Efek positifnya pun bisa dirasakan oleh hewan. Hewan-hewan diberi ruang yang cukup untuk hidup dan bertumbuh serta perawatan yang baik. Mereka enggak dicekoki dengan berbagai zat kimia berbahaya dan pakan buruk yang mengurangi kualitas hidup mereka. Terdengar seperti akhir yang membahagiakan, kan?

 


 

Leave a Reply