Coba Slow Travel, Gaya Traveling yang Lebih Dari Sekadar Berlibur

Belakangan ini muncul gaya traveling yang merupakan kebalikan dari gaya hidup modern yang menuntut segala sesuatu serba cepat. Namanya slow travel. Kalau kamu capek dengan perjalanan yang selalu tergesa-gesa dan kesudahannya malah enggak bahagia, boleh banget mencoba gaya traveling yang satu ini.

 

Apa itu Slow Travel?

via staticflickr.com

Pernah nonton film Eat, Pray, Love-nya Julia Roberts? Kalau pernah berarti kamu sudah sedikit mengenal tentang slow travel. Slow travel yang kalau diterjemahkan kata per kata berarti bepergian secara lambat adalah gaya traveling yang mengutamakan koneksi dengan warga dan budaya di tempat yang kamu datangi. Filosofi slow travel adalah lebih baik pergi ke satu tempat saja dan benar-benar mengenal tempat tersebut daripada pernah ke banyak tempat tapi hanya tahu sedikit mengenai tempat tersebut.

Dengan slow travel, kita diajak agar tidak menjalani liburan dengan tergesa-gesa. Seperti Julia Roberts di film Eat, Pray, Love, kita bisa cuma pergi ke beberapa tempat dalam satu waktu, tapi benar-benar menyelami kehidupan di sana lengkap dengan segala budaya dan ritme hidup masyarakatnya.

 

Keuntungan Slow Travel

via staticflickr.com

Slow travel memungkinkan kamu untuk membangun koneksi dengan tempat-tempat yang kamu kunjungi. Tinggal cukup lama di satu tempat, kamu bisa mengenal orang-orang, baik sesama pelancong maupun masyarakat setempat yang ada di sekelilingmu. Kamu bisa berbelanja di pasar tradisional dekat tempatmu menginap dan melihat kehidupan sehari-hari di tempat itu. Dengan kata lain, kamu belajar benar-benar menjadi warga setempat.

Slow travel enggak akan bikin kamu stres akibat terburu-buru menjalani serangkaian rencana perjalanan dalam waktu singkat. Kejar-kejaran dengan target saat liburan enggak bikin liburan menyenangkan, tapi malah bikin kamu kecapekan dan butuh libur lagi dan lagi.

Slow travel juga lebih ramah lingkungan. Karena kamu diajak untuk bepergian dengan lambat, kamu akan lebih memilih moda transportasi yang hemat energi seperti kereta api atau sepeda. Kalaupun kamu memilih mengendarai mobil, jarak yang kamu tempuh akan jauh lebih pendek.

Dari segi uang yang dikeluarkan, slow travel relatif lebih ekonomis. Berpindah-pindah tempat dengan cepat membutuhkan biaya akomodasi dan transportasi yang lebih banyak. Selain itu kalau kamu tinggal cukup lama di satu tempat, kamu akan memiliki lebih banyak waktu untuk mencari tahu harga terbaik dan pilihan yang lebih murah.

Kamu suka belajar bahasa? Tinggal di satu tempat cukup lama akan memberimu kesempatan untuk belajar langsung dengan orang-orang yang menggunakan bahasa yang kamu pelajari sebagai bahasa ibu. Lebih bagus daripada jenis kursus apapun kan?

 

Cara Melakukan Slow Travel

via maxpixel.freegreatpicture.com

Untuk melakukan gaya traveling ini, kamu enggak harus pergi ke tempat yang jauh. Kamu bisa saja pergi ke satu kota kecil di Indonesia dan menginap kurang lebih seminggu di sana. Kelilingi kota dan daerah sekitarnya. Makan dan berbelanja dengan warga setempat. Ikut nimbrung dan menikmati acara budaya mereka.

Tipsnya, carilah penginapan yang bisa disewa dalam waktu yang lama dengan biaya yang enggak terlalu mahal. Misalnya, apartemen atau penginapan yang memiliki dapur agar kamu bisa masak sendiri. Penginapan semacam itu juga memungkinkan kamu untuk kenal dengan tetangga dan warga sekitar. Bukan seperti hotel yang cuma bisa untuk tidur saja.

Untuk makan, coba berkeliling dan makan di warung tempat warga biasa makan. Kamu bisa juga masak sendiri dengan bahan-bahan yang didapat dari pasar setempat. Sementara untuk transportasi, berhubung namanya slow travel, kamu bisa mencoba alat transportasi yang enggak biasa atau berkendara ke jalan yang lebih jauh tapi indah. Nikmati waktumu di perjalanan sambil mencerna semua pengalaman yang datang.

 

Setelah tahu tentang gaya traveling ini, kira-kira kamu tertarik enggak untuk melakukan slow travel?


 

Leave a Reply