5 Teh Tradisional Indonesia yang Enggak Kalah Enak Dari Teh Mancanegara

Secara global, budaya minum kopi memang lebih banyak peminatnya ketimbang minum teh. Tapi di Indonesia, teh masih jadi juara.

Kira-kira apa alasannya ya? Mungkin karena budaya kita sudah sejak lama mengenal tradisi minum teh sebagai perekat tali kekeluargaan. Tidak heran dari sana tercipta resep-resep minuman teh tradisional khas nusantara. Apa saja minuman teh tradisional Indonesia? Simak di bawah ini.

 

1. Teh Kejek

Teh kejek adalah teh khas Garut yang pembuatannya sangat unik. Kata kejek dalam bahasa Sunda berarti diinjak. Dalam proses pembuatannya, daun teh yang telah disangrai lanjut diinjak-injak untuk mengeluarkan getahnya, menjadikan hasil fermentasinya lebih baik. Proses pembuatannya ini masih dilakukan secara manual dengan peralatan tradisional.

Teh kejek sudah ada sejak awal abad 20 seiring dengan munculnya perkebunan teh Waspada tahun 1865. Kebun teh yang sekarang masuk dalam wilayah Cikajang dan Cigedug, Jawa Barat ini dulunya adalah milik seorang Belanda bernama Karel Frederik Holle.

Saking gemarnya orang Garut dengan teh ini, sampai lahir kebiasaan minum teh yang dinamakan dengan tradisi nyaneut. Tradisi nyaneut ini adalah tradisi minum teh untuk menghangatkan tubuh di tengah dinginnya udara malam.

 

2. Teh Keraton

Teh keraton adalah teh yang muncul dari kebiasaan minum teh para keluarga kerajaan Jogjakarta. Sesuai tradisi keraton, setiap pukul 6 pagi, 11 siang, dan 16 sore, para abdi dalem akan membuat teh bagi Sri Sultan Hamengkubuwono dan keluarga. Hidangan teh ini disajikan di gedhong Patehan, pendopo di keraton yang biasa digunakan untuk melaksanakan upacara minum teh.

Teh keraton memancarkan aroma melati yang kuat. Dalam proses pembuatannya, teh keraton memang menggunakan bunga melati asli yang dipadukan dengan daun teh berkualitas tinggi.

Soal rasa, teh keraton terasa nasgintel atau panas-manis-kental di mulut. Untuk menciptakan rasa seperti itu komposisi antara air, tehh, dan gulanya harus seimbang. Rasa nasgintel ini menjadi perlambang bahwa hidup harus seimbang antara susah dan senang. Kebahagiaan baru bisa didapatkan dengan tempaan keras.

 

3. Teh Pletok

Walau disebut bir, tapi bir pletok sebenarnya resep teh khas Betawi. Rasanya yang berempah dan manis membuat minuman ini pas disajikan baik dingin maupun panas.

Cara membuatnya sederhana. Cukup rebus sejumput secang, 2 lembar daun pandan, 10 cm kayu manis, 6 buah cengkih, seruas jahe, dan gula merah secukupnya hingga mendidih. Selanjutnya, diamkan di atas api selama tiga menit, lalu saring ke dalam gelas. Celupkan teh selama satu menit dan diamkan selama dua menit. Jadi deh.

Tahu enggak kenapa minuman ini disebut bir pletok? Konon nama pletok itu berasal dari bunyi yang keluar saat bahan-bahan teh dicampur dan dikocok jadi satu.

 

4. Teh Uwuh

Teh uwuh atau dikenal juga dengan nama wedang uwuh adalah minuman khas Imogiri, Kecamatan Bantul, Jogjakarta. Awalnya minuman ini hanya dijual di satu angkringan dekat makam keluarga raja Mataram. Namun karena rasanya enak, kini sudah banyak yang mengenal dan menikmatinya.

Kata uwuh berasal dari bahasa Jawa yang jika diterjemahkan artinya adalah sampah dedaunan. Kalau diperhatikan, tampilannya memang mirip seperti sampah dedaunan di dalam gelas. Segala macam daun, mulai dari daun cengkeh, daun manis jangan, dan daun daun pala dicampur baurkan dengan dengan kayu secang, jahe, dan gula batu. Tapi jangan salah, walau tampilannya begitu, teh uwuh ini bermanfaat untuk menyembuhkan batuk, masuk angin, pegal-pegal, dan perut kembung.

 

5. Teh Talua

Teh talua dulu dihidangkan bagi para petinggi dan bangsawan Padang. Namun seiring waktu, sekarang semua orang bisa minum teh ini. Teh talua terbuat dari campuran teh dengan kuning telur bebek atau kuning telur ayam kampung. Rasanya lembut dan baunya sama sekali enggak amis. Supaya makin sedap, biasanya ke dalam teh dicampurkan juga gula dan susu.

Teh talua dipercaya bermanfaat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Orang Minang biasa minum teh ini pada pagi hari agar bersemangat dan fit menjalani hari.

 

Dari kelima teh tradisional Indonesia di atas, mana yang paling kamu suka? Atau daerahmu punya teh khas yang belum disebutkan di sini? Sampaikan di kolom komentar ya.


 

Leave a Reply