5 Mitos Finansial yang Harus Dihindari Menurut Suze Orman

Suze Orman itu siapa? Namanya mungkin belum familiar di Indonesia. Ia adalah konsultan keuangan, motivator, dan presenter TV dari Amerika Serikat. Selain sering nampang di acaranya Oprah Winfrey, Suze Orman punya acara TV sendiri bertajuk Suze Orman Show.

Lewat acara tersebut dan dalam banyak kesempatan lain, Suze Orman menyebarkan virus bijak mengelola uang. Menurutnya, tidak semua saran keuangan yang beredar itu perlu diikuti sebab banyak juga yang cuma mitos finansial. Wah, apa saja mitos-mitos finansial tersebut? Yuk, kita simak di bawah ini.

 

Mitos #1: Pendidikan mahal untuk anak adalah investasi terbaik

mitos finansial yang harus dihindari menurut Suze Orman
via pixabay.com

Bagi kamu yang sudah berkeluarga dan punya anak, perencanaan pendidikan anak pasti jadi perhatian serius. Walau begitu bukan berarti kamu boleh membiarkan anak bersekolah di mana saja ia mau. Bayangkan kalau dia maunya sekolah atau kuliah ke luar negeri, sementara kamu enggak punya uang untuk membiayainya. Kalau kamu memaksakan diri, ujung-ujungnya kamu terjerat utang dan tidak mampu pensiun dengan nyaman.

Idealnya, biaya kuliah enggak boleh lebih dari jumlah gaji setahun pada saat dia pertama kali bekerja penuh waktu. Misalnya, gaji anakmu saat bekerja nanti adalah 5 juta, berarti setahun 60 juta. Biaya kuliahnya sebisa mungkin tidak boleh lebih dari 60 juta.

 

Mitos #2: Mengontrak itu buang-buang uang

mitos finansial yang harus dihindari menurut Suze Orman
via pixabay.com

Punya rumah merupakan salah satu syarat untuk menjadikan hidup kita lebih mapan. Walau begitu, bukan berarti kamu harus langsung membeli rumah tanpa hitung-hitungan dan mempertimbangkan kondisimu saat ini.

Sebelum buru-buru membeli, tanyakan dulu pada dirimu sendiri. Apakah kamu sudah pasti akan menetap di rumah itu selama-lamanya tanpa ada kemungkinan pindah kota? Apakah kamu punya cukup uang untuk membayar kredit tanpa menumpuk utang?

Kalau keadaan finansial memang belum memungkinkan, enggak salah kok untuk mengontrak terlebih dahulu. Ketika kemampuan finansial sudah mencukupi, baru deh mulai cari rumah yang sesuai.

 

Mitos #3: Beli asuransi yang bisa sekaligus investasi

via pixabay.com

Zaman sekarang, secara umum ada dua jenis asuransi. Jenis pertama adalah asuransi untuk perlindungan saja, misalnya asuransi kesehatan untuk perlindungan kesehatan dan asuransi jiwa untuk santunan kematian. Jenis kedua adalah asuransi untuk perlindungan sekaligus investasi.

Asuransi jenis kedua jauh lebih mahal daripada yang pertama. Kalau keuanganmu masih belum stabil serta belum mampu melakukan investasi jangka panjang lebih baik ambil asuransi jenis pertama saja. Investasi jangka panjang semacam itu hanya menguntungkan kalau kamu mampu menahan uang dalam jangka panjang.

Kalau mau investasi, lebih baik sediakan dana khusus untuk investasi. Pilih investasi yang enggak terlalu mahal seperti reksa dana berbiaya rendah atau reksa dana tanpa beban (bebas komisi).

 

Mitos #4: Investasi saham terlalu beresiko, beli deposito saja

via maxpixel.freegreatpicture.com

Investasi saham memang risikonya lebih tinggi dibanding deposito, tapi keuntungannya lebih tinggi juga dibanding deposito. Dari tujuan investasi, yakni mempersiapkan dana untuk masa depan, saham lebih pas. Nilai deposito akan terus menurun dari tahun tahun. Ketika kamu mencairkan deposito, nilai belinya akan berkurang jika dibandingkan dengan kenaikan harga barang.

Untuk meminimalisir risiko sewaktu berinvestasi saham, pisahkan dana tabungan dengan dana investasi. Dana investasi jangan kamu ganggu gugat setidaknya selama 10 tahun ke depan.

Pertimbangkan juga untuk membeli saham dividen. Pemegang saham dividen berhak mendapatkan sebagian pendapatan perusahaan. Biasanya pendapatan perusahaan ini dibayarkan setiap tiga bulan atau tiap tahun.

 

Mitos #5: Tidak perlu buat surat perwalian, cukup surat wasiat

via flickr.com

Kok masih muda sudah memikirkan surat wasiat segala? Kalau dana pensiun saja sudah dipersiapkan sedari sekarang, apa salahnya mempersiapkan surat wasiat juga.

Surat wasiat menjamin semua aset dan kekayaanmu akan jatuh pada pihak yang berhak sesuai keinginanmu ketika kamu meninggal. Namun, bagaimana kalau kamu koma atau sakit sehingga tidak mampu menangani aset-asetmu? Di situlah peran penting surat perwalian.

Surat perwalian adalah pemisahan kepemilikan antara pemilik harta secara hukum dan pemilik manfaat atas benda tersebut. Biasanya surat perwalian dibutuhkan ketika wali menunjuk orang ketiga untuk mengelola harta karena orang yang harusnya mengelola masih belum cukup umur.

Di Indonesia, umumnya konsep ini jarang dilakukan. Mungkin karena kita belum terlalu sadar hukum dan budaya guyub yang lebih mempercayakan hubungan kekerabatan. Enggak masalah kok keluar sedikit tambahan tenaga dan biaya untuk menghindari konflik berlarut-larut.

 

Itu tadi beberapa mitos finansial yang menurut Suze Orman perlu kita hindari. Apakah kamu setuju? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, yuk.


 

Leave a Reply