5 Tanda Kamu Bukan Hemat tapi Pelit 

Walau hemat dengan pelit kedengarannya beda-beda tipis, tapi faktanya kedua hal ini sama sekali berbeda. Dari segi manfaat, hidup hemat berguna menjadikan hidup jadi lebih baik, sementara hidup pelit bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga orang lain.

Sayangnya, banyak orang yang salah kaprah membedakan kedua gaya hidup ini. Maunya hidup hemat, eh malah mempraktikkan hidup pelit. Supaya gampang membedakannya, coba lihat tanda-tanda berikut ini. Kalau semuanya ada padamu, itu tanda kamu bukan hemat tapi pelit.

 

1. Tidak bahagia

tanda kamu bukan hemat tapi pelit
via pxhere.com

Hidup hemat adalah gaya hidup yang mengutamakan pengelolaan keuangan dengan bijak untuk mencapai target keuangan yang jelas. Target tersebut bisa macam-macam, misalnya pendidikan, pernikahan, masa pensiun, dan lain-lain.

Hidup hemat perlu tekad yang kuat karena kamu ditantang untuk mengorbankan keinginan yang tidak terlalu penting untuk mencapai target. Namun, bukan berarti kamu harus hidup merana dan mengorbankan diri.

Kalau kamu jadi stres karena terlalu menahan-nahan pengeluaran untuk meningkatkan kualitas hidup, berarti kamu sudah berlebihan dalam menyimpan uang. Itu tanda kamu bukan hemat, tapi pelit.

 

2. Waktu habis untuk menghemat uang

tanda kamu bukan hemat tapi pelit
via media.defense.gov

Hal lain yang menandakan bahwa kamu sudah kelewat pelit adalah enggak menghargai waktumu sendiri. Waktumu habis sekadar dapat produk dengan harga paling murah. Kamu rela keliling mal berkali-kali, mengumpulkan voucer diskon atau berjam-jam mencari penawaran diskon di internet.

Berburu penawaran termurah memang kegiatan yang menantang, tapi coba periksa lagi. Apakah waktu yang yang kamu habiskan untuk berhemat sebanding dengan besarnya penghematan yang kamu lakukan? Kalau enggak sebanding, berarti itu tanda kamu hidup pelit alih-alih hidup hemat.

 

3. Melanggar peraturan

tanda kamu bukan hemat tapi pelit
via media.defense.gov

Orang yang hematnya sudah kelewat ekstrim juga rela mengabaikan peraturan yang berlaku. Misalnya, masuk ke taman bermain. Ia berani berbohong soal umur adik, keponakan, atau anaknya yang masih kecil demi mengirit biaya masuk. Contoh lain, orang ini juga enggan berlangganan paket Wifi dan memilih menumpang gratis Wifi tetangga.

Hal-hal semacam ini, kalau kamu lakukan, mungkin belum akan membuatmu terkena sanksi hukum. Tapi hati-hati, kalau sudah jadi kebiasaan, bukan tidak mungkin tindakan “berhemat” yang kelewat ekstrim ini bisa mengantarmu berurusan dengan dengan pihak berwajib. Ayo, putus pola buruk ini dari sekarang.

 

4. Hidup enggak sehat

tanda kamu bukan hemat tapi pelit
via flickr.com

Kesehatan harus jadi prioritas utama dalam hidup. Kalau kamu sudah mulai mengutamakan hidup hemat daripada menjaga kesehatan, berarti kamu sudah terlalu pelit. Coba ingat-ingat lagi, apakah kamu sudah makin sering makan mi instan, mengurangi jatah makan yang ideal, atau menolak berobat ke dokter?

Tidak ada gunanya berhemat kalau kesehatanmu yang jadi taruhannya. Kalau kamu sakit, simpanan uang yang hemat sepanjang waktu tidak akan ada artinya. Yang ada kamu malah jadi boros karena perlu mengeluarkan uang banyak untuk berobat.

 

5. Kehidupan sosial yang buruk

tanda kamu bukan hemat tapi pelit
via pixabay.com

Terakhir, tanda hidup hematmu sudah kelewat ekstrim adalah enggak punya kehidupan sosial. Kamu bukannya enggak punya teman, tapi kamu enggan mengeluarkan uang untuk bersosialisasi dengan mereka.

Menahan diri agar latte factor tidak bikin anggaran keuangan jadi bocor memang penting. Namun kalau kamu jadi merasa terisolasi dan kesepian, berarti ada yang salah dengan pilihanmu. Jangan gara-gara berhemat, hubungan pertemanan dan kesehatan mental jadi terkorbankan ya.

 


 

Leave a Reply