Mengenal dan Menerapkan Kaizen, Budaya Kerja dari Jepang

Kamu ingin mempelajari budaya kerja yang oke? Coba arahkan pandanganmu ke Jepang. Di Jepang, banyak perusahaan yang awet berdiri walaupun usianya sudah berpuluh bahkan ratusan tahun.

Salah satu perusahaan tua yang masih rajin mengeluarkan ide segar adalah Toyota. Perusahaan yang didirikan oleh Kiichiro Toyoda tahun 1937 ini menerapkan prinsip kaizen dalam budaya bisnisnya. Kalau kamu tertarik seperti apa sih kaizen dalam bisnis, simak pembahasannya di bawah ini.

 

Apa itu Kaizen?

via wikimedia.org

Kaizen berasal dari kata kai, yang artinya berubah, dan zen, yang artinya bagus. Kalau diterjemahkan, kaizen kira-kira berarti berubah menjadi lebih baik.

Seperti apa perubahannya? Perusahaan lain biasanya melakukan perubahan besar-besaran dalam waktu-waktu tertentu, misalnya ketika bisnis mandek. Nah, dalam prinsip kaizen, jangan tunggu sampai krisis. Perubahan kecil harus dilakukan terus menerus.

 

Prinsip Kaizen

via maxpixel.freegreatpicture.com

Prinsip kaizen menganggap enggak ada proses yang sempurna. Selalu ada ruang untuk perbaikan. Walau begitu dalam membuat perbaikan, enggak boleh asal-asalan. Kita perlu melihat situasi yang sesungguhnya dan dari situ melakukan aksi nyata membenahi masalah yang muncul.

Untuk membenahi masalah pun, ketimbang melakukan perubahan besar-besaran yang butuh banyak sumber daya, lebih baik bersama melakukan perubahan-perubahan kecil. Seiring waktu, perbaikan dan pembenahan terus menerus yang dilakukan itu akan membawa kemajuan bagi perusahaan.

 

Penerapan

via wikimedia.org

Prinsipnya sih kedengaran menyenangkan di telinga, tapi bagaimana dengan penerapannya? Dalam praktiknya, perubahan-perubahan itu perlu dimulai dari pekerja. Kenapa? Sebab pekerja lah yang melihat proses kerja dan terlibat langsung setiap saat. Setiap pekerja dimotivasi untuk terus menerus mencari cara memperbaiki kinerja pribadi dan tim.

Beri kesempatan semua pekerja untuk terbuka memberikan saran. Jangan takut-takuti atau omeli kalau saran mereka kurang oke. Selain berguna untuk memajukan perusahaan, kesempatan ini juga bermanfaat meningkatkan rasa ikut memiliki dari para pekerja.

Kaizen bisa dibilang berhasil ketika semua pekerja aktif mencari hal yang perlu ditingkatkan berdasarkan pengamatan dan pengalaman mereka. Beri imbalan atas usulan perubahan yang benar-benar diterapkan. Agar kaizen efektif, harus ada rasa saling percaya antara atasan dan bawahan, yang didukung oleh struktur perusahaan yang demokratis.

 

Alat Bantu Mempraktikkan Kaizen

Sebenarnya ada banyak alat bantu untuk mempraktikkan prinsip kaizen. Untuk menemukan akar permasalahan dan mempraktikkan kaizen secara sederhana, kamu bisa mulai dari PDCA.

PDCA (PlanDoCheckAct)

via wikimedia.org

PDCA merangkum semua siklus kegiatan kaizen. Penerapan PDCA secara efektif berguna untuk mendukung pembuatan keputusan yang cepat.

  • Plan (membuat rencana)
    Apa tujuan dan hasil yang diinginkan? Seperti apa proses untuk mencapai hasil tersebut?Mulai dari pekerjaan skala kecil agar bisa langsung diuji coba.
  • Do (Melaksanakan)
    Jalankan rencana. Jalankan proses. Buat produk. Kumpulkan data selama proses pelaksanaan untuk dianalisis di tahap check dan act.
  • Check (Memeriksa)
    Pelajari data yang didapat dari tahap pelaksanaan. Bandingkan dengan hasil yang diharapkan pada tahap perencaan. Cari letak penyimpangan atau perbedaannya.
  • Act (Melakukan)
    Kalau dari tahap pemeriksaan (check), pelaksanaan (do) lebih baik daripada perencanaan (plan) maka jadikan perbaikan tersebut sebagai standar baru. Sebaliknya kalau pelaksanaan justru lebih memble dibandingkan perencanaan, standar lama tetap berlaku. Kedua kasus menunjukkan ada proses pembelajaran yang perlu dilakukan.

 

Sudah mulai paham dengan prinsip kaizen dalam bisnis? Selain kaizen, masih banyak lagi filosofi Jepang yang bukan cuma bagus untuk diterapkan dalam bisnis, tapi juga berguna untuk menjadikan hidup kita lebih bermakna.


 

Leave a Reply