Geminio! Ini 7 Pelajaran Entrepreneurship dari Harry Potter untuk Bisnismu

Tanggal 1 September 2017 kemarin jadi hari penting bagi para penggemar Harry Potter. Tanggal ini merupakan momen 19 Tahun Kemudian yang ada di epilog novel. Diceritakan Harry dan Ginny mengantarkan anak mereka, Albus Severus Potter ke stasiun kereta api. Albus akan mengikuti jejak ayah ibunya, masuk sekolah sihir Hogwarts.

Bukan hanya seru dan merangsang imajinasi, cerita Harry Potter yang digandrungi banyak orang di seluruh dunia ini juga mengandung pelajaran entrepreneruship lho. Kalau enggak percaya, JadiMandiri sudah menggali beberapa pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter. Simak di bawah ini.

 

1. Berjejaring

pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter untuk bisnismu
via staticflickr.com

Profesor Slughorn, guru mata pelajaran ramuan yang ada di buku keenam, suka berjejaring dan membangun relasi antar murid-murid favoritnya. Motifnya memang jauh dari murni, karena dia senang menerima hadiah dan penghormatan dari murid-muridnya yang sudah sukses. Tapi membangun relasi adalah cara yang baik untuk membangun kepercayaan dalam koneksi bisnismu.

Namun, jangan seperti Profesor Slughorn yang mengabaikan orang-orang yang dia anggap enggak berprestasi atau kurang populer. Apalagi memperlakukan mereka dengan buruk. Perlakukan semua orang secara baik dan hormat. Jangan pernah memiliki pikiran untuk membangun relasi berdasarkan keuntungan saja. Selain hubungan semacam ini enggak kuat, kamu juga kehilangan kesempatan untuk mengenal banyak orang yang menarik.

 

2. Berusaha lebih keras dari yang lain

pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter untuk bisnismu
via staticflickr.com

Hagrid, si raksasa jenggotan yang pertama memperkenalkan Harry dengan dunia sihir, perlu usaha keras menembus keluarga Dursley. Ia tujuh kali mencoba mengantarkan surat undangan Hogwarts ke Harry walau keluarga pamannya Harry tersebut tidak suka. Hagrid melakukan berbagai upaya mulai dari mengirim ribuan surat, menyembunyikan surat di dalam telur, hingga akhirnya berhasil menyampaikannya sendiri kepada Harry.

Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa yang akan kamu lakukan ketika ada klien atau pelanggan yang melayangkan keluhan untuk jasa atau produkmu? Apa yang kamu akan lakukan ketika kamu kesulitan mencari materi produksi untuk bisnismu? Apa yang akan kamu lakukan ketika timmu bekerja enggak maksimal? Apakah kamu akan menyerah hanya pada beberapa upaya ataukah kamu akan mencoba dan mencoba lagi?

 

3. Bekerja sama dengan ahlinya

via staticflickr.com

Pada pertarungan akhir di Kastil Hogwarts, Profesor McGonagall meminta kerjasama dari Peeves si hantu pengganggu walaupun sebenarnya dia kesal terhadapnya. Dia tahu bahwa untuk menghadang Voldemort, keahlian Peeves sangatlah penting.

Setiap orang punya keahliannya sendiri-sendiri. Cari tahu keahlian orang lain yang tidak kamu punya. Jangan segan atau gengsi meminta keahlian mereka untuk digunakan dalam bisnismu. Singkirkan ego dan kesombonganmu

 

4. Hindari mengakui prestasi orang lain

pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter untuk bisnismu
via staticflickr.com

Dalam buku kedua, kita mengenal karakter bernama Gilderoy Lockhart, seorang penyihir dan guru di Hogwarts. Dia terkenal karena mengakui prestasi orang lain dalam buku-bukunya. Di akhir cerita, keserakahannya menyebabkan memorinya terhapus.

Jangan jadi seperti Gilderoy. Enggak ada bagusnya mengambil hasil kerja keras orang lain dan mengakuinya sebagai milikmu. Suatu hari hal itu pasti akan berbalik menyerangmu. Kalau ada inovasi bisnis yang dilakukan seseorang, jangan mencurinya. Lebih baik bekerja sama dengan sang inovator atau bekerja keras sendiri dan membuat inovasimu sendiri.

 

5. Berpikiran terbuka

pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter untuk bisnismu
via wikimedia.org

Dalam buku ketiga, Prisoner of Azkaban, kita berkenalan dengan karakter Remus Lupin. Profesor Lupin menjadi salah satu guru di Hogwarts yang baik, pintar, dan ngemong. Sayangnya, ketika orang-orang kemudian tahu kalau Lupin adalah manusia serigala, gambaran dirinya yang baik itu terhapus.

Hal ini menjadi pengingat bagi kita, baik ketika bekerjasama dengan mitra, melayani pelanggan, mewawancarai calon pegawai, dan lain sebagainya. Kita tidak boleh membiarkan anggapan tentang seseorang mengaburkan pandanganmu tentang orang tersebut. Lihatlah seseorang sebagaimana mestinya, sesuai dengan peran dan perilakunya. Bukan karena latar belakangnya atau penampilannya.

 

6. Jangan takut meminta bantuan

pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter untuk bisnismu
via staticflickr.com

Turnamen Triwizard jadi fokus utama buku keempat, The Goblet of Fire. Dalam turnamen itu, Harry harus menyelesaikan tiga tugas berbahaya. Dia enggak akan bisa melalui turnamen tersebut tanpa pertolongan dari sahabat-sahabatnya Hermione, Ron, Hagrid, Dobby dan lain-lain. Penting untuk kita sadari bahwa tidak ada salahnya meminta bantuan ketika kita benar-benar memerlukannya. Jangan biarkan ego dan gengsi malah menghalangimu utnuk menerima bantuan dan mencapai sukses.

 

7. Persiapkan kemungkinan terburuk

pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter untuk bisnismu
via pixabay.com

Hermione merupakan sosok perfeksionis yang selalu siap sedia. Di buku terakhir, dalam situasi genting dan harus berpindah-pindah tempat, Hermione selalu siap sedia mengemas semua perlengkapan yang mungkin dibutuhkan.

Dalam kehidupan nyata, kamu harus memperhitungkan segala kemungkinan. Dengan begitu kamu punya cara dan siap untuk mengatasi masalah sesegera mungkin. Selangkah lebih maju akan menyelamatkanmu dari begitu banyak situasi yang tidak mengenakkan.

 

Itu tadi beberapa pelajaran entrepreneurship dari Harry Potter yang bisa kamu serap. Dengan tujuh buku yang tebal-tebal, sebenarnya masih banyak pelajaran lain yang bisa kita dapatkan dari Harry Potter. Kamu sendiri, bagian cerita Harry Potter mana yang paling berkesan buatmu?


 

Save

Leave a Reply