5 Destinasi Wisata Sejarah di Bekas Ibu Kota Indonesia, Bukittinggi

Kota Bukittinggi awalnya adalah sebuah pasar yang menjadi semakin besar di daerah yang bernama Nagari Kurai. Orang Minangkabau biasa menyebutnya Pakan. Pakan tersebut terletak di perbukitan yang tinggi sehingga disebut Bukittinggi.

Kota Bukittinggi ini selain terkenal akan keindahan alam dan budayanya (sehingga dijuluki sebagai Parisnya Sumatra), ternyata juga kota yang punya peran penting dalam sejarah perjuangan melawan penjajah. Kalau enggak percaya, coba lihat sendiri beberapa tujuan wisata sejarah Bukittinggi berikut.

 

1. Lobang Jepang

A post shared by Wiwi Widiyati (@wiwidiyati) on

Mengingat letaknya sangat strategi di tengah-tengah pulau Sumatera, penjajah Jepang menetapkan kota Bukittinggi sebagai pusat komando pertahanan di sumatera. Panglima Divisi ke 25 Angkatan Darat Balatentara Jepang, Letjen Moritake Tanabe memerintahkan pembangunan kubu pertahanan yang sekarang dikenal sebagai Lobang Jepang.

Kubu pertahanan yang berada di bawah tanah ini dilengkapi dengan tempat menyimpan amunisis, barak, ruang makan, rumah sakit, ruang sidang dan dapur. Keseluruhan ruangnya berjumlah 27 buah. Pengunjung dapat melihat denahnya di depan pintu masuk. Panjang keseluruhan kubu pertahanan ini diperkirakan mencapai 5.000 meter, namun yang dapat dimasuki turis hanya sekitar 1.500 meter.

Tempat ini diwarnai oleh sejarah mengerikan karena dibangun dengan tenaga kerja paksa dari rakyat Indonesia. Semua tenaga kerja tersebut pada akhirnya meninggal karena kekurangan makanan dan disiksa oleh tentara Jepang.

 

2. Istana Bung Hatta

Wakil Presiden pertama Indonesia, Bung Hatta, lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Bukittinggi. Enggak heran pada tahun 1946 pemerintah Bukittinggi mendirikan Istana Wakil Presiden yaitu Gedung Negara Tri Arga. Sayangnya sejak tahun 2000, masyarakat umum tidak diperbolehkan lagi masuk ke istana ini. Istana ini hanya digunakan untuk acara-acara khusus. Walau begitu kamu masih bisa kok foto-foto di depan gerbangnya.

 

3. Istano Basa

Istano Basa atau lebih terkenal dengan Istana Pagaruyuang merupakan replika dari istana Kerajaan Pagaruyuang lama yang telah terbakar pada abad 19 akibat perang antara kaum Padri dan kaum Adat. Istana Basa Pagaruyung dulunya adalah tempat tinggal keluarga Kerajaan Pagaruyuang sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Minangkabau.

Bangunan replika ini tidak dibangun seluruhnya dari kayu seperti istana aslinya. Walau begitu, proses pembangunan tetap dilakukan dengan cara dan bahan khas Minang, lengkap dengan pahatan dan hiasan budaya Minang.

Istana ini kini menjadi pusat budaya Minangkabau. Jadi kalau kamu tertarik dengan sejarah adat Kerajaan Minangkabau, kamu bisa menempuh perjalanan sekitar 35 kilometer dari Bukittinggi. Kalau beruntung, kamu juga bisa menyaksikan acara seni atau seremoni pernikahan adat Minang.

 

4. Benteng Fort de Kock

A post shared by Fandhy 483 (@mc.483) on

Pada tahun 1833 di Bukittinggi ditandatangani perjanjian Plakat Panjang yang membuat Nagari Kurai menjadi pusat kegiatan ekonomi. Untuk melindungi kota dari sisa-sisa perlawanan kaum Adat pada Perang Padri, Kepala Opsir Militer Belanda bernama Kapten Bauer membangun Benteng Fort de Kock ini.

Tinggi benteng 20 meter dan di setiap sisinya terdapat empat meriam yang dulu digunakan untuk pertahanan. Di sekeliling benteng pengunjung dapat pula menikmati taman yang hijau dengan pohon rindang.

 

5. Jam Gadang

A post shared by ?eno? (@girl_lyy_) on


Jam Gadang yang menjadi simbol kota Bukittinggi ini dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker yang merupakan sekretaris pada saat itu. Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama kota Bukittinggi.

Uniknya Jam Gadang ini sudah mengalami banyak perubahan sesuai dengan pemerintahan yang berkuasa saat itu. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Sementara pada masa penjajahan Jepang, ornamen jam berubah menyerupai klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya kembali menjadi rumah adat Minangkabau seperti yang kita lihat saat ini.

Keunikan lainnya ada pada angka empat yang tertulis di jam Gadang. Angka Romawi biasanya tertulis dengan IV, namun di Jam Gadang malah tertera IIII. Sampai saat ini tidak ada yang tahu kenapa hal ini terjadi.

 

Itulah tempat-tempat tujuan wisata sejarah Bukittinggi. Mana dari tempat-tempat tersebut yang sudah pernah kamu kunjungi?


 

Leave a Reply