Menelusuri Rekam Jejak Kretek Indonesia di 3 Museum Rokok Keren ini

Industri rokok di Indonesia memang enggak pernah lepas dari pro dan kontra. Di satu sisi, kita tahu menghisap rokok dapat merusak kesehatan. Tidak perlu googling di internet, di bungkus rokok pun kita bisa melihat penyakit yang bisa ditimbulkan. Di sisi lain, industri ini menyerap banyak tenaga kerja.

Fakta yang pasti, industri rokok Indonesia punya sejarah panjang. Sebagai bukti, beberapa perusahaan rokok besar punya museumnya masing-masing. Di mana saja letak museum rokok di Indonesia? Yuk, kita telusuri.

 

1. Museum Kretek Kudus

Ini dia Museum Kretek Kudus yang melegenda itu via www.1001wisata.com

Kudus memang daerah yang sarat sejarah. Bukan hanya menjadi tempat bersemayamnya Sunan Kudus, daerah ini juga menjadi satu-satunya lokasi museum kretek yang ada di Indonesia. Namanya Museum Kretek Kudus. Didirikan 3 Oktober 1986 atas ide Gubernur Jawa Tengah kala itu, Soepardjo Roestam.

 

Beragam merek rokok kretek di Indonesia yang ada di Museum Kretek Kudus via writenreview.blogspot.co.id

Di museum ini kita bisa melihat mesin-mesin antik untuk memproduksi rokok, koleksi benda kuno yang digunakan untuk membuat rokok kretek tradisional, dan diorama aktivitas pabrik rokok di masa lalu. Total koleksi yang dimiliki museum yang terletak di Jalan Getas Pejaten, No. 155, Kecamatan Jati, Kudus, Jawa Tengah ini sekitar 1.195 buah.

Berkunjung ke sini juga akan memperkaya wawasan kamu tentang perjalanan tembakau di Indonesia yang memang sudah eksis sejak jaman penjajahan Belanda, ratusan tahun silam. Kalau kamu benar-benar pencinta kretek, jangan cuma konsumsi saja, kamu juga perlu mengenal seluk beluk dan sejarahnya di Indonesia.

 

2. Museum House of Sampoerna

Empat pilar gedung depan Museum House of Sampoerna via therabuana.com

Museum rokok selanjutnya yang bisa kamu kunjungi adalah Museum House of Sampoerna. Pendiri Sampoerna, Liem Seeng Te, membeli bangunan peninggalan Belanda ini pada tahun 1932 untuk dijadikan rumah produksi rokok Sampoerna.

 

Suasana di dalam Museum House of Sampoerna via donnaimelda.com

Seiring berjalannya waktu, gedung yang memiliki 4 pilar besar di depannya ini berubah menjadi Museum Sampoerna. Di dalam museum yang terletak di Jalan Taman Sampoerna No. 6, Surabaya kamu bisa melihat koleksi berbagai peninggalan produksi rokok Sampoerna jaman dahulu.

Berbagai koleksi yang berhubungan dengan kegiatan produksi rokok Sampoerna ditampilkan di sini. Mulai dari replika tungku untuk mengeringkan tembakau, kemasan rokok produksi Sampoerna dari tahun ke tahun, hingga lapak kelontong tempat pertama kali menjajakan rokok bisa pengunjung lihat di sini.

Selain tampilan visual, Museum Sampoerna juga menghadirkan bebauan. Iya, kamu bisa mencium aroma tembakau produksi Sampoerna di museum ini.

 

3. Museum Bentoel Malang

Pemandangan di depan Museum Bentoel di Malang via www.laughonthefloor.com

Museum Bentoel di Malang adalah museum rokok yang paling muda di antara dua museum sebelumnya. Museum ini baru dibuka untuk publik pada tahun 2013. Konsep Museum Bentoel juga mirip dengan dua museum sebelumnya yakni menyajikan cerita sang pendiri perusahaan rokok. Di sini kamu bisa melihat koleksi Ong Hok Liong, pendiri Bentoel, dalam membangun usahanya.

 

Rokok filter yang diproduksi Bentoel terpajang rapih di Museum Bentoel, Malang via www.flickr.com/photos/agungw

Yang membedakan museum ini dengan dua museum sebelumnya aadalah berbagai koleksi yang mengisahkan tentang awal mula Ong Hok Liong meramu tembakau menjadi kretek filter. Di museum ini juga diceritakan bagaimana merajang tembakau menggunakan pisau khusus, mengeringkannya dan membukus dengan menggunakan klobot jagung. Bahkan, Ong juga membuat kisah tentang saus racikan khusus untuk produknya ini, yang ternyata banyak diminati penikmat rokok hingga saat ini.

 

Menghisap rokok memang bisa merusak kesehatan, tapi berkunjung ke museum rokok enggak akan membawa dampak serius bagi kesehatanmu. Malahan kamu bisa mengenal lebih tentang seluk beluk dan sejarah rokok di Indonesia.


 

Leave a Reply