7 Falsafah Nusantara yang Patut Diterapkan dalam Hidup

Tekanan pekerjaan dan lingkungan sering membuat kita lupa untuk menyeimbangkan hidup. Akibatnya kebahagiaan dan produktivitas jadi terganggu. Pada saat-saat seperti itu, ada baiknya kita menelaah diri.

Bangsa kita memiliki berbagai falsafah dan pedoman hidup yang sangat bijak. Enggak ada salahnya sesekali kita menyerap nilai-nilai hidup dari beberapa falsafah nusantara berikut.

 

1. “Hiduik baraka, bauke jo bajangko”, Minang

Filosofi Nusantara
via travelingyuk.com

Hiduik artinya hidup, baraka artinya berpikir, baukua jo bajangko artinya berukur dan berjangka. Bila diartikan, dalam menjalani kehidupan segala sesuatu perlu direncanakan dengan baik serta dengan perkiraan yang cermat.

Hal ini tentu saja diperlukan bagi orang Minang yang dikenal sebagai pedagang yang sukses. Mereka perlu bekerja keras dan merencanakan aktivitas usahanya dengan tepat.

 

2. Urip iku urup”, Jawa

via boombastis.com

Budaya Jawa yang terkenal dengan masyarakatnya yang “nrimo” atau pasrah bukan berarti tidak mau mengubah keadaaan. Alih-alih, sebenarnya mereka mengutamakan kedamaian dan keselarasan hidup.

Urip iku urup berarti hidup itu harus menyala. Makna yang terkandung dari kalimat ini adalah dorongan untuk menjadikan hidup kita seumpama pelita, menerangi orang-orang di sekitar kita. Kebaikan yang kita lakukan, besar atau kecil tidak akan sia-sia.

 

3. Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok”, Batak

via jaktasfoto.blogspot.co.id

Suku Batak terkenal dengan tutur katanya yang lugas dan keras. Orang suku Batak juga dikenal sebagai pribadi yang berkemauan keras dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Itu sebabnya banyak dari mereka yang memilih profesi menjadi pengacara atau pembicara, profesi yang membutuhkan percaya diri yang tinggi.

Hal ini sesuai dengan filosofi hidup yang terkandung pada “Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok”. Filosofi ini mengajarkan agar kita percaya pada diri sendiri dan jangan terlalu berharap pada orang lain. Intinya adalah berusaha sendiri dulu dan percayalah pada kemampuan diri.

 

4. “Melak cabe jadi cabe melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade melak goreng jadi goreng”, Sunda

via emaze.com

Masyarakat Sunda adalah masyarakat agraris yang selalu menyelaraskan adat-istiadatnya dengan alam. Tidak heran filosofinya pun berkaitan dengan alam.

Ungkapan Sunda ini diterjemahkan sebagai: apapun yang ditanam, cabe, timun, kebaikan atau keburukan, itulah yang akan dipanen. Filosofi ini menanamkan hukum alam tabur tuai, atau disebut juga karma.

Apapun yang kita berikan itulah yang akan kembali kepada kita. Itulah sebabnya kita harus selalu menjaga perilaku kita.

 

5. “Umum geutanyo hana siuro simalam, oleh sebabnyan taubat teu bakna”, Aceh

via ramahhandoko.net

Tidak salah jika Aceh disebut sebagai serambi Mekah karena budayanya sarat dengan nilai-nilai Islami. Nilai-nilai lokal Aceh berpadu harmonis dengan nilai keislaman. Hal ini tercermin pula dalam filosofi hidup suku Aceh.

Perumpamaan ini memiliki arti bahwa umur kita tidak ada sehari semalam. Oleh sebab itu kita harus selalu ingat akan dosa kita dan bertobat kepada Allah SWT. Dalam menjalani hidup, kita perlu selalu mengingat kekuatan yang lebih besar dari kita. Dengan begitu hidup bisa harmonis dengan sesama.

 

6. “Lompobattammonjo cini Ti’rinna bawakaraeng Iya tea gio Iya tena ta’lenggang-lenggang”, Makassar

via sispalaserigalasman1parigi.blogspot.co.id

Falsafah hidup orang Makassar ini menyuruh kita untuk meniru Gunung Lompobattang di Makassar. Gunung tersebut tinggi dan tidak banyak gerak atau berlenggak-lenggok. Artinya kita diajarkan untuk meraih pencapaian tinggi, namun ketika sudah tinggi tetap tidak sombong dan banyak lagak.

 

7. “Berbicara, harus ada baranya, ada pula nyalanya”, Flores

via youtube.com/channel/UCoaiE7s9jjJx6BjT-a7LVhg

Alam Flores yang keras nampaknya tidak tercermin pada filosofi hidup yang tertuang dalam perumpamaan ini. Dalam kalimat ini, kita diajarkan bahwa dalam menanggapi atau menyimpulkan sesuatu kita disarankan untuk menggunakan pendekatan yang baik dan lembut. Masih ada cara-cara lain yang lebih damai, yang tidak harus mengandalkan kekerasan.

 

Kalau masih ingin menimba falsafah hidup lainnya untuk jadi inspirasi, kamu juga bisa belajar dari pandangan-pandangan hidup masyarakat Jepang. Agar hidup jadi lebih baik, kita memang perlu belajar dari manapun.


 

Leave a Reply