5 Karakter yang Perlu Diubah agar Revolusi Mental Berhasil

Tahun 1977, Mochtar Lubis menyampaikan pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki. Sosok sastrawan yang juga punya latar belakang jurnalis tersebut mendaftar karakter-karakter manusia Indonesia.

Kebanyakan karakter yang ia sampaikan memang lumayan menggambarkan ciri orang Indonesia. Menyedihkannya, karakter tersebut buruk-buruk dan tetap “dijiwai” oleh banyak orang di Indonesia 40 tahun sesudah pidato itu disampaikan, alias saat ini.

Agar revolusi mental berhasil, karakter-karakter tersebut perlu diubah. Dengan begitu kualitas manusia Indonesia bisa semakin meningkat. Karakter-karakter yang perlu diubah tersebut, antara lain:

 

1. Enggan Bertanggung jawab

Orang Indonesia enggan bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan. Karakter itu bahkan mengakar dan hidup dalam cerita humor yang sudah populer.

Dalam cerita tersebut seorang anak SD ketiduran di dalam kelas ketika gurunya sedang menerangkan pelajaran. Sang guru menanyakan pertanyaan “Siapa lawan Belanda dalam perang di Jawa Tengah tahun 1825-1830?” Ketika menanyakan ke si anak yang ketiduran itu, sontak si anak terbangun gelagapan dan menjawab lugas, “Bukan saya, Bu!”

Orang dewasa melakukannya lebih dari sekadar ucapan “bukan saya.” Mereka mewujudkannya dalam bentuk yang tidak cerdas seperti lempar-lempar kesalahan. rupa menggeser tanggung jawab kegagalan. Atasan menyalahkan bawahan dan bawahan menimpakan kesalahan ke orang yang ada di bawahnya lagi. Begitu seterusnya.

Agar revolusi mental berhasil, karakter ini harus diubah menjadi profesionalitas. Kalau pun hal yang dikerjakan gagal atau salah, harus berjiwa besar mengakuinya. Pelajari kesalahan tersebut, lalu buat perbaikan agar kesalahan yang sama tidak terjadi di lain waktu.

 

2. Berjiwa Feodal

Dalam sejarahnya, bumi nusantara awalnya dihuni oleh berbagai kerajaan. Mulai dari masa kerajaan Hindu, Buddha, sampai Islam. Pada masa seperti itu, praktik feodalisme memang tidak terhindarkan. Hanya orang-orang yang berasal dari keturunan kerajaan yang berhak punya kuasa. Rakyat jelata adalah hamba sahaya.

Anehnya, ketika Indonesia sudah jadi republik, jiwa feodal masih tetap mengakar. Banyak orang yang ingin jadi aparatur sipil negara bukan karena niat mengabdi tapi karena ingin dekat dengan kekuasaan. Banyak juga yang menyombongkan kalau ia kenal dengan si anu yang jadi pejabat di sini atau si fulan yang perwira berpangkat tinggi.

Di sisi lain orang yang tidak dekat dengan kekuasaan menganggap dirinya orang kecil, meski sebenarnya dalam demokrasi kekuasaan berada di tangan rakyat.

Agar revolusi mental berhasil, nilai yang harus digalakkan adalah kesetaraan. Bahwa apapun suku, agama, ras, keanggotaan, jabatan, gender, semua sama di mata hukum. Seperti yang Presiden Soekarno pernah suarakan, “Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua!”

 

3. Boros

Mungkin kamu merasakan sendiri karakter yang ini. Gaji dari kantor tidak cukup untuk hidup sampai akhir bulan. Ketika dihitung-hitung, latte factor atau pengeluaran yang kecil-kecil banyak menghabiskan anggaranmu. Terlebih di era teknologi seperti sekarang, di mana untuk belanja cukup klik beberapa tombol. Godaan untuk hidup boros begitu besar.

Agar revolusi mental berhasil, kita harus mulai terbiasa untuk menabung. Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk menabung. Kamu bisa menabung saham, menabung uang receh di toples, atau seperti yang kebanyakan orang lakukan, menabung di bank. Manfaat menabung memang tidak bisa dirasakan saat ini, tapi akan sangat membantu di masa depan.

 

4. Pemalas

Banyak pengamat dari negara lain menganggap orang Indonesia dininabobokan oleh alamnya sendiri. Karena punya sumber daya yang melimpah, yang kalau kata grup band Koes Ploes ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’, orang Indonesia jadi malas berusaha. Kalau pun usaha inginnya yang instan-instan saja.

Contoh nyata di masyarakat seperti praktik orang yang pesugihan alias minta kekayaan pada makhluk halus atau dukun pengganda uang. Dalam bidang pendidikan, orang inginnya membayar saja untuk dapat gelar sarjana, tanpa perlu belajar.

Agar revolusi mental berhasil, kebiasaan-kebiasaan seperti tepat waktu dan tidak menunda pekerjaan harus ditanamkan. Orang Indonesia perlu meniru etos kerja bangsa lain seperti Jepang dan Jerman yang menempatkan waktu sesuai peruntukannya. Waktunya kerja untuk kerja, waktunya santai untuk santai.

 

5. Hobi Menggerutu

Berkaitan dengan jiwa feodal tadi, ketika ada ketidak setujuan, orang Indonesia menyampaikannya di belakang. Dalam bentuk gosip dan gerutu. Jika disampaikan secara langsung soalnya dapat menimbulkan rasa malu, merasa berbeda dengan orang lain, atau takut dicap bodoh atau tidak mengerti.

Agar revolusi mental berhasil, orang Indonesia harus mulai berani menyampaikan pendapat secara terbuka. Prasyaratnya keadaan setara sudah harus berlaku. Dalam masyarakat setara, perbedaan anggapan diterima dengan wajar karena meyakini dari situlah solusi baru dapat tercipta.

 

Ayo optimis mengubah karakter-karakter tersebut! Kelak membaca kembali naskah pidato Mochtar Lubis jadi sekadar aksi nostalgia. Generasi Indonesia di masa depan ketika membacanya cuma berujar, “Ohh, dulu orang Indonesia seperti ini ya.”


 

4 Comment

  1. […] Revolusi Mental mu terlebih dulu jika sebaiknya janganlah berlama-lama bekerja untuk perusahaan orang lain, […]

  2. […] belum menjadi salah satu dari mereka atau misalnya kamu memiliki kualitas serupa maka lakukanlah Revolusi Mental terlebih dahulu dan jadilah salah satunya. Sel;amat […]

  3. […] diri kita sendiri, dan profesi kita maupun tempat kita bekerja mencari rezeki. Ya caranya dengan merevolusi mental kita yang terkait dengan produktifitas. Apa aja yang perlu dilakukan? Saya ambil beberapa hal dari […]

  4. […] dalam menjaga kesopanan dan Etika bagian dari Revolusi Mental. Banyak komentar dari yang sudah merusak Kebun Amaryllis merasa tidak menjadi masalah Karena sudah […]

Leave a Reply