5 Rumah Bersejarah di Indonesia yang Kini Jadi Museum

Awalnya bangunan-bangunan ini merupakan kediaman pribadi, namun karena latar penting kejadian bersejarah atau mengandung nilai sejarah, pemiliknya mengubahnya menjadi museum. Dengan begitu masyarakat luas dapat berkunjung dan melihat-lihat ke dalam. Rumah-rumah bersejarah yang saat ini dijadikan museum seperti:

 

1. Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Jakarta

Rumah dinas TNI AD yang pernah ditempati Jenderal Ahmad Yani kini jadi museum via angkasa.co.id

Museum yang terletak di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat ini sebelumnya merupakan rumah dinas Jenderal Ahmad Yani. Ia merupakan salah satu jenderal yang gugur saat pecah peristiwa G30S. Bukti-bukti terjadinya peristiwa tersebut dipertahankan di sini.

Misalnya kamu bisa melihat pintu masuk ke ruang makan yang kacanya berlubang tertembus peluru. Kamu juga bisa menemukan replika pakaian tidur berlumur darah yang dipakai Yayu Ahmad Yani, istri Jenderal Ahmad Yani untuk membersihkan lumuran darah suaminya di lantai.

Bukan cuma seputar peristiwa keji tersebut, rekam jejak prestasi beliau juga bisa kamu lihat di rumah bersejarah ini. Seperti foto Ahmad Yani bertindak sebagai perwakilan Indonesia menerima penyerahan kembali kota Magelang dari tangan Belanda tahun 1949.

 

2. Rumah Martha Tilaar, Gombong

Tampak depan Rumah Martha Tilaar via tribunnews.com

Pengusaha kosmetik dan jamu, Martha Tilaar, begitu cinta terhadap kota kelahirannya Gombong. Karena itu ia membeli kembali rumah masa kecilnya untuk dijadikan museum. Harapannya, semakin banyak orang tertarik berwisata ke Gombong.

Di rumah yang terletak di Jalan Sempor Lama No. 28 ini kamu bisa melihat foto-foto Gombong dan bangunan rumah ini di masa lalu. Sekeliling rumah ditanami tanaman obat-obatan untuk menunjukkan ketertarikan Martha Tilaar terhadap jamu khas Indonesia.

Selain memajang peninggalan masa lalu, Rumah Martha Tilaar juga punya ruang khusus tempat memamerkan produk-produk Martha Tilaar dan hasil usaha mikro, kecil, dan menengah warga Kebumen.

 

3. Rumah Tan Malaka, Payakumbuh

Tan Malaka besar di rumah ini via edunews.id

Dari luar bangunannya terlihat kurang terurus, tapi rumah gadang dengan atap seng dan dinding kayu ini memang rumah Tan Malaka. Kalau kamu belum pernah dengar nama itu, ia merupakan tokoh golongan kiri dan pahlawan nasional Indonesia satu generasi dengan Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Syahrir.

Di sini kamu bisa melihat koleksi foto-foto Tan Malaka di masa perjuangan bersama presiden Soekarno, buku-buku sejarah mengenai perjuangan, dan silsilah keturunan beliau. Kamu juga bisa menemukan lukisan pensil hitam putih Tan Malaka menyamping yang selama ini kita kenal, tergantung di dinding.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata meresmikan rumah tua peninggalan Tan Malaka ini menjadi museum pada tanggal 21 Februari 2008.

4. Museum Sisa Hartaku, Jogjakarta

Seperti ini beranda Museum Sisa Hartaku via jalan2men.com

Museum Sisa Hartaku merupakan saksi sejarah untuk peristiwa yang relatif masih baru, yakni meletusnya Gunung Merapi tahun 2010. Kala itu dampak letusan Gunung Merapi hingga ke bangunan rumah milik keluarga Riyanto ini.

Ketika mereka kembali dari pengungsian, Riyanto tidak membuang atau menyingkirkan barang yang rusak akibat bencana tersebut. Ia justru mengumpulkan dan menatanya sehingga jadi museum seperti sekarang.

Di sini kamu bisa melihat jam dinding yang menunjuk ke jam 12.04. Itulah waktu tepat erupsi Merapi menghantam rumah tersebut. Kamu juga bisa melihat kerangka sapi, kerangka motor, hingga gamelan yang sudah rusak. Barang-barang peninggalan ini unik sekaligus menyimpan kengerian, bukti bahwa jika alam tidak bersahabat akibatnya sangat fatal.

 

5. Museum Rumah Bung Karno, Bengkulu

Di Bengkulu, Bung Karno tinggal di rumah ini via novaveronica.wordpress.com

Pada kurun 1938-1942, Bung Karno pernah diasingkan di Bengkulu. Nah, rumah ini merupakan rumah pengasingan yang beliau tempati.

Awalnya rumah ini merupakan milik pengusaha Tionghoa bernama Tan Eng Cian. Pada masa itu ia merupakan penyuplai bahan pokok untuk pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyewa ini sebagai rumah tempat pengasingan Bung Karno selama di Bengkulu.

Selain bangunan lama yang tetap bertahan sampai sekarang, pada tahun 2006, pemerintah provinsi Bengkulu menambahkan bangunan baru bernama Persada Bung Karno. Fungsinya adalah sebagai museum, perpustakaan, ruang pertemuan, dan gedung pertunjukan.

Apakah kamu sudah pernah mengunjungi semua rumah bersejarah tersebut?


Leave a Reply