Multitasking vs Single Tasking, Mana yang Lebih Produktif?

Dalam hal pekerjaan, banyak perusahaan menyukai karyawan yang mampu multitasking. Perusahaan menganggap mempekerjakan karyawan yang mampu menjalani tugas ganda (multitasking) lebih efisien. Dengan besaran gaji yang sama, karyawan seperti ini dapat menyelesaikan beberapa macam tugas dalam sekali waktu.

Lantas bagaimana dari sisi pekerja sendiri? Apakah benar orang yang mampu melakukan tugas ganda lebih produktif ketimbang orang yang hanya mampu single tasking? Untuk itu kamu perlu simak bahasan multitasking vs single tasking berikut ini.

 

Kuantitas Pekerjaan

via thebalance.com

Ketika kamu mengerjakan tugas dengan cara single tasking, maka kamu menolak tugasĀ  yang lain demi mengerjakan tugas yang ada di hadapanmu. Karena itu jumlah pekerjaan yang bisa kamu selesaikan lebih sedikit dibanding dengan mengerjakan tugas secara multitasking. Jadi dalam soal kuantitas pekerjaan, multitasking lebih unggul.

 

Fokus

via geeksandgarters.com

Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple, pernah berkata fokus bukan cuma kita harus mengiyakan hal-hal yang semestinya kita harus fokuskan. Fokus juga berarti kita harus menolak ratusan ide bagus lainnya.

Dengan mengerjakan beberapa tugas bersamaan, maka fokus kamu akan terbagi-bagi-bagi. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahan akibat ketidaktelitian dalam melaksanakan salah satu pekerjaan tersebut. Dampaknya, waktu bekerjamu justru akan bertambah karena harus menemukan letak kesalahan dan memperbaikinya.

Sementara, jika kamu hanya melakukan tugas yang ada di hadapanmu, maka kamu memusatkan pikiranmu hanya untuk pekerjaan tersebut. Kesalahan-kesalahan dapat diminimalisir dan waktu bekerjamu dapat lebih kamu efektifkan. Single tasking lebih unggul.

 

Stres

via huffingtonpost.com

Ketika melakukan tugas ganda, otak manusia dipaksa untuk mengubah konsentrasi dari satu hal ke hal lain dengan cepat. Bayangkan kamu membuka banyak program bersamaan di ponsel atau laptop, pasti kinerjanya akan melambat kan? Kira-kira seperti itu jugalah otak kita saat melakukan tugas ganda. Mendapat beban kerja banyak membuat otak jadi stres.

Mengerjakan hanya satu pekerjaan dalam satu waktu, ketimbang membuat kamu stres mungkin cenderung lebih membuat kamu bosan. Tapi bukankah bosan mending daripada stres? Single tasking unggul.

 

Memori Otak

via ramblingrector.me

Ketika melakukan tugas ganda, kamu harus mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus dalam waktu yang terbatas. Karena itu kamu cenderung melakukan pekerjaan tersebut lebih cepat dari standar waktu yang diperlukan. Hal ini berdampak terhadap ingatan jangka pendek lho. Biasanya kamu akan lupa ketika ditanya detail pekerjaan yang sudah dilakukan.

Mengerjakan sesuatu dengan tidak terburu-buru dapat membantu ingatanmu menjadi lebih baik. Seperti ketika kamu harus membaca surel penting, kamu dapat memahami surel tersebut dengan baik dan membalasnya dengan tepat. Single tasking unggul.

 

Hasil Pekerjaan

via standard.co.uk

Melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu menjadikan kamu tidak fokus dalam mengerjakannya serta cenderung lebih terburu-buru. Karena itu hasil yang didapat biasanya kurang optimal.

Sementara jika kamu mengerjakan satu tugas dalam satu waktu, kamu dapat memusatkan perhatian untuk pekerjaan tersebut. Kamu dapat lebih cermat dan efektif mengerjakan tugas tersebut. Hasilnya? Cenderung lebih baik. Single tasking lebih unggul.

 

Dari perbandingan di atas kita bisa melihat bahwa melakukan tugas tunggal jauh lebih produktif ketimbang mengerjakan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan. Studi juga menunjukkan bahwa ketika melakukan multitasking produktivitas kita berkurang hingga 40 persen.

Kalau kamu punya kebiasaan mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, coba deh ubah pelan-pelan. Buat daftar to do list sebelum kamu bekerja dan mulailah mengerjakan sesuatu sesuai dengan tingkat prioritasnya. Kamu juga bisa menggunakan matriks Eisenhower sebagai alat bantu.

 


 

Leave a Reply