Ini Alasan Kamu Perlu Lakukan Digital Detox

Apakah kamu selalu memegang ponsel kapan pun di mana pun? Merasa resah jika tidak mengecek ponsel barang semenit? Amat gemar membagikan status terkini ke teman-teman via media sosial? Hati-hati, bisa jadi kamu sudah kecanduan telepon seluler.

Kecanduan telepon seluler bukan mengada-ada. Saking universalnya, perusahaan riset Inggris YouGov sampai mengajukan sebutan untuk kecanduan ini: nomophobia.

Chuck Palahniuk dalam novelnya Fight Club pernah menulis, “The things you own end up owning you.” Orang yang sudah kecanduan telepon seluler sudah sesuai dengan kutipan Chuck tersebut, balik dikuasai oleh benda yang ia miliki.

Enggak mau jadi seperti itu? Ayo mulai lakukan digital detox. Digital detox atau puasa gawai adalah kegiatan menyingkirkan semua perangkat teknologi seperti laptop, video gim, dan yang paling utama, ponsel.
Coba deh akhir pekan nanti nonaktifkan gawaimu dan rasakan keuntungan ini:

 

Produktivitas Meningkat

Apakah Kamu Memerlukan Digital Detox?
Definisi fokus via silviapencak.com

Jika kamu sebentar-sebentar melihat ponsel, pasti kamu akan kesulitan berkonsentrasi sewaktu sedang membaca buku, membuat laporan, atau mendengarkan orang bicara.

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa orang yang melakukan banyak pekerjaan sekaligus atau multi-tasking cenderung kurang produktif dibanding orang yang fokus melakukan suatu pekerjaan dalam satu waktu.

Kalau kita analogikan pikiran manusia layaknya komputer, membuka terlalu banyak aplikasi akan menjadikan kinerja prosesornya melambat. Ketika aplikasi sudah ditutup pun kadang tetap lambat karena masih ada memori yang berjalan di belakang.

Nah, digital detox adalah usaha untuk me-refresh. Memori aplikasi yang masih “menempel” benar-benar disingkirkan, sehingga kinerja komputer dapat kembali maksimal.

 

Tidur Lelap

Alasan Kamu Perlu Melakukan Digital Detox
Malam-malam masih sibuk mengecek ponsel via hbr.org

Seakan sudah terprogram, aktivitas yang pertama dan terakhir kali kita lakukan adalah mengecek ponsel. Kita melakukannya entah untuk mengecek pesan masuk atau sekadar menggerakkan jempol scrolling-scrolling media sosial.

Kalau kamu melakukannya pada pagi hari mungkin tidak terlalu masalah, tapi jika malam hari akan membawa dampak tertentu. Sinar biru dari layar ponsel menyebabkan kita sulit untuk tertidur karena otak menganggapnya sebagai cahaya sinar matahari.

Otak menghentikan produksi hormon melatonin yang menjadi petunjuk bagi tubuh untuk tertidur. Akibatnya, siklus tidurmu terganggu.

Sewaktu melakukan digital detox, kamu tidak lagi menjadikan menatap layar gawai sebagai ritual sebelum tidur. Hormon melatonin diproduksi sebagaimana biasanya sehingga siklus tidurmu tidak terganggu.

 

Lebih Menghargai Orang Lain

Apakah Kamu Memerlukan Digital Detox?
Percakapan yang hangat tidak perlu pakai gawai via clipartfox.com

Keberadaan gawai sering disebut mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Sekarang sudah tidak jadi pemandangan yang mengherankan lagi ketika sekumpulan orang yang duduk bareng di satu meja sibuk menatap layar gawai masing-masing ketimbang ngobrol satu sama lain.

Dengan melakukan digital detox, kamu bisa lebih menyadari bahwa keberadaan orang lain bukan sekadar avatar atau foto profil saja. Ia punya nyawa, intonasi suara, dan perasaan nyata sebagai manusia.

 

Sadar dengan Lingkungan Sekitar

Apakah Kamu Memerlukan Digital Detox?
Fokus ke gawai daripada ke lingkungan sekitar via chinadaily.com.cn

Tahun 2015, kata “smombie” menjadi kata yang paling ngetren di kalangan anak muda Jerman. Kata tersebut merupakan singkatan dari smartphone zombie.

Orang-orang yang kecanduan ponsel atau gawai kan kelakuannya mirip zombie. Ia tidak hirau dengan lingkungan sekitar. Sewaktu jalan di trotoar atau menyetir mobil, saking tidak mau lepas dari layar ponselnya, sampai-sampai membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sudah banyak kecelakaan terjadi gara-gara perilaku tersebut.

Digital detox akan membuat kamu sadar dengan lingkungan sekitar. Konsentrasimu tidak terpecah antara melihat layar ponsel dengan melihat keadaan jalan. Potensi kecelakaan pun bisa dihindarkan.

 

Melakukan digital detox bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Orang yang melakukannya justru menempatkan kembali teknologi pada kodratnya semula, yaitu alat yang semata-mata tujuannya untuk memudahkan hidup manusia. Jadi apakah kamu tertarik untuk memulai digital detox?

 


 

Leave a Reply