Tidur Siang Untuk Tetap Produktif Lazim Dilakukan di 3 Negara Ini

Tidur siang selama dilakukan di tempat privat seperti kamar atau rumah sendiri tentu tidak akan membawa masalah. Aktivitas tersebut akan membawa masalah ketika dilakukan di tempat publik, seperti di kantor. Orang yang melakukannya akan dicap pemalas. Bisa jadi kalau bos sudah merasa keki berat, ia tidak akan segan-segan memecat orang yang kedapatan sering tidur siang.

Uniknya ada negara-negara yang membolehkan aktivitas tidur siang di ruang publik. Warga negara tersebut tidur siang di saat jam kerja atau sekolah. Kalau tidak percaya, simak artikel di bawah ini.

 

1. Tradisi inemuri di Jepang

via asyura.us

Jepang terkenal sebagai negara maju di berbagai bidang. Salah satu penyokong kemajuan industri di sana adalah tingginya jam kerja bagi pegawai. Hal ini membuat banyak pekerja merasa kelelahan. Dari berbagai penelitian pun disebutkan intensitas tidur orang Jepang hanya 6 jam 22 menit per hari. Hal ini tentu membuat banyak warga Jepang merasa kantuk berat. Alhasil, akan sering kita temui orang-orang tertidur pada siang hari di depan meja kerja mereka. Tidur siang seperti ini disebut juga inemuri.

Lebih unik lagi, tidak jarang juga kita temui orang yang tidur di tempat umum. Mereka tertidur di halte bus, taman, dan kereta api. Posisi tidurnya juga memancing reaksi jenaka. Mereka duduk di bangku dengan kepala menunduk atau wajah ke atas dengan mulut terbuka. Bahaya kalau ada lalat atau benda asing masuk.

 

2. Tradisi siesta di Spanyol

via myspanishinspain.wordpress.com

Tidur pada siang hari juga dilakukan di Spanyol. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak berabad-abad silam dan sudah jadi tradisi. Orang Spanyol melakukan siesta karena udara siang di negara Eropa tersebut terlalu menyengat. Berlama-lama saat siang siang hari di Spanyol juga bisa menimbulkan beberapa efek bagi kesehatan, seperti kulit terbakar, dehidrasi, hipertermia, hingga kanker kulit.

Di perkantoran atau pertokoan, siesta dilakukan mulai pukul 14:00-16:00. Orang Spanyol baru mulai beraktivitas lagi ketika udara sudah mulai sejuk, kira-kira pukul 16.00 hingga malam. Malahan gara-gara siesta, aktivitas malam hari di Spanyol berlangsung lebih lama. Saat malam hari, masih banyak orang-orang yang berada di luar, termasuk anak-anak.

Namun belakangan, Perdana Menteri Spanyol tengah mengajukan usulan ke parlemen untuk menghapus kegiatan siesta ini. Alasannya agar budaya kerja di Spanyol bisa menyesuaikan dengan budaya kerja secara global dimana pekerja mulai bekerja dari pagi dan selesai pada sore hari.

 

3. Tradisi wujiao di Tiongkok

Sama seperti di Spanyol, Tiongkok juga punya kebiasaan tidur siang. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa lazim mengisi jam istirahat siang dengan tidur. Dalam bahasa Tiongkok, aktivitas ini disebut wujiao.

Malahan satu SD di Zhejiang, provinsi di Tiongkok sebelah timur, membuat ruang kelas khusus untuk tidur siang. Anak-anak kelas 1 dan 2 SD, yang baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah diizinkan tidur siang di sana. Dengan begitu kebiasaan wujiao mereka bisa diselaraskan dengan kegiatan belajar mengajar.

Di ruangan yang dilapis busa tersebut disediakan selimut dan bantal. Seorang guru menjaga ruangan tersebut untuk memastikan tidak ada murid mengisengi temannya yang sedang tidur. Kalau ada murid yang tidak mau tidur pun dibolehkan, dengan syarat ia tidak menganggu temannya yang lain. Aktivitas itu dilangsungkan selama 50 menit hingga jam 13:05.

 

Berdasarkan studi yang dilakukan lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, tidur sebentar pada siang hari paling lama 30 menit dapat meningkatkan produktivitas kerja. Hmm, jadi jika negara lain ada yang melakukan serta didukung riset NASA, kira-kira bisa enggak ya kebiasaan tidur siang dilakukan di Indonesia? Berikan pendapatmu di kolom komentar ya!

(Visited 2 times, 1 visits today)

Leave a Reply